Semut Hitam

https://i2.wp.com/kepoan.com/media/uploads/2015/11/kepoan.com-mitos-rumah-pembawa-keberuntungan-1-filipina-536x360.jpg

Ia terus saja menggerayangi tubuhku. Pertama-tama hewan kecil berkaki empat itu menjajak bagian-bagian tubuh. Dari jemari tangan lalu lengan dan kemudian ia sampai pada wajah setelah melewati anggota badan yang paling bidang. Dada.

Entah apa yang dicari hewan pecinta gula. Tiba-tiba saja ia memasuki telinga. Masalahnya diriku lemah tak berdaya, bahkan untuk sekedar mengangkat tangan lalu menyibak semut itu. Tidak bisa. Maka terjadilah petaka.

Sialnya semut itu tidak mau keluar-keluar. Bak pendekar bertapa saja, semut hitam, dalam tenggat waktu yang lama, terus berdiam diri di dalam indera pendengaranku. Telingaku sakit sekali. Seperti ditendang-tendang saja. Ditendang semut

Di saat rasa sakit yang semakin mendera, sejenak aku masih sempatkan otakku untuk berpikir dan mencari alasan yang paling memungkinkan. Kenapa semut itu masuk ketelinga? Apa mungkin ia sedang ingin uzlah? Loh, kan bulan puasa.
Atau jangan-jangan semut itu sedang putus cinta, atau lamarannya di tolak.
Siapa tahu saja, semut kecil bangsat itu nasibnya sama seperti diriku.

Telingaku sakit sekali. Semoga semut sialan itu akan keluar setelah beberapa jam kemudian. Saya berharap semut hitam itu akan merasa kesepian sehingga dengan begitu, ia akan keluar dengan sendiriya. Sebab, jika dipaksa keluar akibatnya bisa fatal. Semut itu malah ketakutan untuk sekedar melongokkan kepala. Akibatnya, ia bisa bermalam di telingaku.

Ya. Tidak ada cara lain kecuali semut itu harus keluar dengan keinginannya sendiri. Caranya buat ia merasa sendiri. Dan ia harus tahu betapa tragisnya nasib seorang jomblo. Dan, ia akan segera keluar mencari cinta. Sebab berlama-lama hidup sendiri memangnya siapa yang betah?
Apalagi dikedalaman lubang telinga. Pengap. Gelap dan Umh, Bau. Terang saja.

Aku pun bernyanyi sekeras-kerasnya, lagu wali yang berjudul JODI. Lima kali lagu itu saya ulang-ulang. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Terdengar gerakan kakinya melangkah keluar. Saya pun menyanyikan lagu semakin keras. Semut semakin beranjak. Semakin keras. Semakin beranjak. Semakin keras. Semakin sakit.

Semut itu bermesra berduaan di bilik gendang telingaku. Sesaat sebelum saya pingsan ada semut betina yang kebetulan lewat. Dan ternyata semut itu handal merayu.

Aku Telan Saja

Aku telan saja

Berderet-deret nyawa menempa diri

Aku telan saja

Tertidur dipinggiran torotoar bersama mayat

Aku telan saja

Saat nafas mencagun dibibir maut

Menari-nari dan setan itu menangis pilu

Rupanya restoran untukku tak kunjung habis

Tak perduli

Aku telan saja

Jemblung

“Lalu aku bagaimana mas?”

“Kau pulang saja. Cari lelaki lain”. 

“Aku sudah berkorban segalanya mas”.

“Aku begitu, karena kasihan sama kamu” Jemblung masih tak peduli istrinya yang sesunggukan.

“Mas biarkan saja. Yang penting kita bersama”

“Dasar wanita bodoh!”

“Percuma saja besar dan panjang. Lebih baik dipotong saja” Pisau tajam dan sedikit panjang itu menyentuh pangkalnya. Jemblung menjerit. Darah muncrat-muncrat. Tepat di depan mata Astri, kelamin itu lepas.

Tulisan


Seperti kata kemarin, bahwa tulisan layaknya iman. Pasang-surut yang tak bisa dihindari. Keimanan seseorang, jika tidak ingin hilang lalu menjadi murtad hendaklah ia mengubgrade imannya. La ilaha illallah. 

Dan tepat pada dini hari ini (07/04/17) dunia tulis-menulis yang dipermulaan tahun 2017 menjadi hobi saya yang sangat asik sekali, telah mengalami kondisi yang amat memilukan. Kritis.

Ide-ide itu telah muksa.

Suatu hari ada seorang sahabat Nabi SAW yang gagah berani. Ia turun ke rancah pertempuran. Pedang terhunus. Sinar keputih-putihannya menerpa wajah-wajah musuh. Wajahnya yang santun amatlah berlawanan dengan keberaniannya yang tak sedikitpun gentar akan kematian. Baginya, mati Syahid adalah cita-cita mulia dan, keinginan itu telah terpampang di depan mata.

Pasukan-pasukan berani mati itu dengan gagah beraninya berlari. Derap kaki mereka amatlah wibawa. Mereka berteriak lantang. Pekik takbir bertalu-talu dan diantaranya adalah suara sahabat itu.

Perang pun berkecamuk. Darah telah membanjir. Korban berjatuhan. Pedang-pedang yang mulus putih, bergemerlap indah itu, telah berwarna merah. Dan, sahabat itu terkena sabetan-sabetan musuh. 

Luka itu sakit sekali. Sahabat itu tidak kuat menahan perih yang tak terkiran dan ia pun mengekskusi diri. Tidak lama kemudian ada kabar dari sang Utusan seru sekalian alam, bahwa sahabat itu masuk neraka. 

Seperti itu. Seperti itulah tulisanku bagi pembaca sekalian yang budiman.

Jika tidak dibaca, ia memberi sakit –penasaran. Apabila diteruskan, pembaca-pembaca yang baik hati itu akan mengumpat-ngumpat.😁

Kiyai

Kiyai adalah sebutan untuk petinggi agama di pulau Jawa-Madura pada umumnya. Panggilan yang dilekatkan hanya pada orang-orang tertentu ini merupakan gabungan dua suku kata yang kemudian menjadi satu nama yaitu “Ki”, yang memiliki makna seorang laki-laki yang dituakan atau dihormati. Adapun “Yai”, ia punya makna besar dan luas. Jika digabung maka akan memiliki makna yang teramat apiknya, manusia yang berkapasitas luas, berwibawa, berkarekter pemimpin, sekaligus dihormati serta dijadikan rujukan dalam segala urusan karena pengalamannya yang  seluas samudera. Gampangnya, kiyai adalah gelar seseorang yang memiliki kedudukan khusus dimata masyarakat dan Tuhan. 

Tetapi tunggu dulu. Penyebutan kata kiyai, jika ditelusuri lebih jauh lagi, ternyata tidak hanya menempel pada manusia saja, ia juga melekat pada sebuah pusaka atau sesuatu yang dianggap bertuah. Semisal, Kiyai Sangkelat nama sebuah keris pusaka di jaman Majapahit, karya Empu Supa Mandagri. Atau, Kiyai Selamet, nama kerbau di keraton Yogyakarta. Pokoknya, apapun dan siapapun yang dipanggil kiyai , keramat.

Kembali kemasalah awal, tidak sedikit orang yang mendamba laqob atau julukan ini disematkan pada dirinya. Kekuatan magis yang terkandung didalamnya sangatlah menggiurkan, bertumpu pada kesaktian panggilan ini siapapun bisa berkehendak sesuka hati, menjadi terkenal atau, bahkan bisa mendulang rupiah sebanyak-banyaknya. Bagi mereka –ulama gadungan– yang menginginkan sebutan kiyai melekat pada dirinya, tak ubahnya sebuah maha gelar demi menunjang pribadi yang kurang percaya diri. Gampangnya, untuk gagah-gagahan.

Kendati demikian, ternyata banyak pula yang tidak mau menyandang gelar ini meskipun dirinya sudah mempunyai krediblitas dan kapasitas yang cukup, dengan alasan, amanah yang ada didalamnya tidak hanya di dunia. Bahkan,  tanggung jawab akibat gelar kiyai berkelanjutan ke akhirat kelak. Maka tak heran, jika tak terhitung sedikit pula yang bersembunyi supaya panggilan prestisius itu tidak hinggap di depan namanya. Tetapi demi umat, banyak penyandang maha gelar itu menerima saja sebutan itu menghiasi namanya beserta tangis malam yang mengadu pilu kepada tuhannya, mendo’akan orang-orang yang begitu setia dan percaya memanggil dirinya kiyai.

Gelar ini memang fantastis sekali. Sebab, orang yang menyandang gelar ini akan diikuti segala tindak lampahnya, dicintai, dan masyarakat yang memberi atau, berlapang dada mengakui sebutan kiyai melekat pada orang tersebut, rela berkorban jiwa dan raga terhadap penyandang gelar. Salah satu bentuk kehebatan pemangku gelar ini yaitu, bisa dipastikan lingkungan disekitarnya baik dan berkah. Maksud saya yang benar-benar pantas di panggil kiyai. 

Penyandang gelar ini disebut warisan para Nabi. Sebagaimana wudhu, sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang mulia, maka ia pun larut di dalam kemulian. Itulah kiyai. Merekalah tali kokoh yang menolong manusia agar tetap terhubung dengan ajaran Nabi dan Tuhannya.

***

Syahdan, suatu hari ada seorang pemuda pengembara, ia singgah di suatu daerah terpencil. Perjalanan jauh yang ia tempuh cukup melelahkan rupanya. Setelah beberapa hari berdiam diri melepas lelah, pemuda itu sedikit merasa ganjil dengan daerah yang baru saja disinggahannya. Karena daerah itu tidak ada kiyainya. Buntut dari sebuah daerah yang tidak memiliki ulama atau kiyai adalah kemaksiatan yang meraja-lela.

Barangkali karena biaya kampanye begitu mahal sehingga tidak ada yang mendaftar menjadi kiyai.

Daerah itu kering-kerontang dari rutinitas agama, kosong akan mauidzah dan tempat itu benar-benar butuh akan sentuhan tangan dingin seorang kiyai. Pemuda itu berfikir keras. Bagaimanapun desa Curug Gedang itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, terlelap dalam gelap-pekat kebodohan, kezaliman serta maksiat yang terus berpentas dan dianggap pantas. Tekad pemuda itu.

Pemuda itu tetap tinggal di Surau tua daerah tersebut dalam beberapa hari, seraya memikirkan bagaiman daerah itu tidak tandus dengan ajaran agama, dan ia tetap melakukan rutinitas seperti biasa dalam perjalanannya, bermunajah kepada Tuhan. 

Hiangga pada suatu hari pemuda itu tertaut pada seseorang yang sudah beberapa hari selama pemuda itu tinggal di Surau, orang itu begitu rajin sholat berjamaah di surau yang ia singgahi dalam pengembaraannya. Ia pun penasaran dan sering memperhatikan orang yang bertindak sebagai imam itu. Dan sepertinya orang itu juga kompeten dalam menjalani tata hidup yang islami, terbukti tata krama yang begitu apik selalu menghiasi prilaku dan tutur-sapanya kepada siapapun. Perkiraan usia, orang itu sudah berkepala empat.

“Anak dari mana?” Sapa orang berjenggot putih dan peci putih yang menawan pemuda itu disuatu hari.

“Dari desa seberang pak” 

“Hendak kemana nak, barangkali bapak bisa membantu” 

“Ke sebuah tempat yang tidak terlalu jauh pak. Insya Allah tidak lama lagi sampai” pemuda itu menjelaskan. “O iya. Nama bapak siapa?” Lanjutnya.

“Mawaruddin. Kalau anak siapa?”

“Rohim Warisi pak”

“Bolehkah saya tinggal lebih lama disini pak” 

“Dengan senang hati nak” Pak Mawar beranjak pergi setelah mengucap salam kepada Rahim. Memang tidak bisa dipungkiri. Bapak Mawar benar-benar berbudi luhur, sopan dan santun. Sepertinya bapak Mawar juga orang berilmu tinggi. Tetapi begitulah, kerapkali nasehat dan ajakannya kepada masyarakat, tidak begitu diperhatikan. Hanya beberapa gelintir orang saja. Entah dan kenapa pemuda itu belum tahu.

Barangkali saja, masyarakat terjebak oleh pengertian keliru, sebab pada umumnya, penyemetan kata kiyai yang sudah menjadi nama itu hanyalah bagi mereka yang punya pesantren berikut santrinya yang berjubel-jubel sebagaimana lumrahnya yang tersebar dimasyarakat luas. 

***

Pada malam hari, pemuda itu tidak henti-hentinya bermunajat. Dan, di tengah dzikir yang tak diketahui sudah berapa ribu persisnya, mendadak saja, tiba-tiba timbul ide di kepala Rohim Warisi untuk berkarya. Menciptakan seorang kiyai di daerah tersebut. Luar biasa.

Rahim Warisi, adalah tipikal pemuda yang tak pernah menunda-nuda kesempatan. Terbukti sekali, jika adzan berkumandang tak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya untuk menunda barang sebentar saja. Ia segera bergegas diri menyambut panggilan yang merasuk kalbu. Hayya ‘alasshalah. 

Terang saja, saat itu juga Rahim Warisi langsung mengontak kolega-koleganya dan ia memetakan ide yang baru saja berkelebat. Lantas dimulailah ide itu dengan cara yang begitu apik. 

Begini rencanya.

Awal mulanya, teman-teman Rahim Warisi pura-pura bertanya kepada masyarakat daerah tersebut tentang seorang kiyai  yang bernama lengkap Mawaruddin  Maksum. Lalu berangkatlah mereka semua ke daerah yang sudah ditunjukkan oleh Rahim Warisi dan juga rutenya melalui Google Map. Desa Curug Gedang.

“Bapak tahu dimana ndalem yai Mawar?” tanya salah satu gerombolan penipu yang berjumlah enam orang. 

“Wah. Disini tidak kiyai mas. Apalagi kiyai  Mawar” Jawab kakek yang memegang cangkul di pinggir jalan itu.

“Coba kakek ingat-ingat lagi” 

“Beneran mas. Kalau Mawar sih ada, tapi bukan kiyai”  Jawab kakek lugu.

“O. Ya sudah kek. Terimakasih”

Tidak berhenti disitu saja. Tentu saja. Mereka terus bertanya kepada setiap pengguna jalan yang berlawanan arah. Tentu saja mereka semua jawab tidak tahu, kalau Mawar ada kata mereka. Sama persis seperti jawaban kakek suaminya nenek yang berada di pinggir jalan sebelumnya.

Terdengarlah kasak-kusuk kiyai Mawar di daerah itu. Masyarakat Curug Gedang gempar. Mereka terheran-heran dengan salah satu warga yang bernama Mawar. Perihal beberapa orang yang mencarinya dengan paggilan kiyai.

Rupanya cerdas sekali pemuda yang baru dapat dua minggu singgah di Curug Gedang itu. Rahim Warisi bersama komplotannya mengadakan acara berikut pemberi mauidzahnya. Mereka menjadikan Mawar sebagai penceramah dan dipanggil dengan embel-embel kiyai. 

“Kiyai  saya dan teman-teman hendak membuat acara, sudikah njenengan mengizinkan sekaligus njenengan menjadi penceramah” Rahim Waris sowan kepada Bapak Mawar bersama sahabat-sahabatnya.

“Saya bukanlah kiyai, jangan panggil begitu. Baiklah, acara apa yang kalian maksud” Jawab Bapak Mawar.

“Iya kiyai. Maaf. Acara tasyakkuran saja kiyai. Kebetulan masyarakat sekarang sudah panin”

“Mendadak sekali. Ada apa sebenarnya?”

“Tidak apa-apa kiyai. Cuma ingin mengajari masyarakat bersukur atas nikmat Tuhan” Jawab Rahim menyembunyikan tujuan utamanya.

“Baiklah. Dimana tempatnya?”

“Di Surau”

Meskipun berbagai rintangan aral melintang, dari berbagai pihak yang tidak ingin acara itu terjadi. Acara demi acara itu berjalan dengan begitu mulusnya.

Dan benar saja. Hasilnya bisa ditebak. Tidak lama berselang kemudian, bapak tua yang rajin beribadah itu menjadi betul-betul kiyai Mawar. Meskipun hanya sebagian saja yang begitu mantap jaya memanggil kiyai, seiring berjalannya waktu masyarakat setempat akhirnya terbiasa dengan panggilan kiyai Mawar. 

Pemuda yang bernama lengkap Rohimuddin Warisi itu, tidak membuang kesempatan menambah amal, dengan begitu cekatannya ia bersama gerombolan-gerombolannya segera merenovasi satu-satunya Surau yang berdekatan dengan ndalem  kiyai  Mawar. Semua elemen masyarakat tergerak. Mereka berbondong-bondong bekerja bakti. Hanya dalam hitungan hari Surau itu berdiri gagah, dan siap menampung ibadah. Anak-anak sudah terdengar mengeja huruf hijaiyah. Selain itu, Si Mbah Mawar dengan telatennya mengajar masyarakat hukum-hukum dasar agama dengan semangat. Dan bersabar. Tentu saja.

***

Dua purnama telah lewat. Dan diakhir cerita, masarakat Curug Gedang tunduk dan patuh kepada kiyai Mawar terhadap ajarannya tentang Islam. Ternyata masyarakat begitu antusias dengan cahaya Islam. Apalagi tinggal satu bulan lagi, bulan Ramadhan akan segera bersambut. Mereka pun bertambah menggegap-gempita menyambut bulan yang penuh rahmat nan berkah itu. Karena kiyai Mawar sudah siap sedia membimbing mereka menjaring berbagai kebaikan di bulan yang Al Qur’an turun untuk pertamakalinya. 

Di kejauhan, Rohim Warisi hendak berangkat meninggalkan desa itu. Namun sebelum ia membalikkan badan untuk meninggalkan desa Curug Gedang untuk selama-lamanya, ia melihat Surau itu seraya tersenyum penuh haru. Air mata di kelopaknya tak terbendung. Jebol, bersama untaian tasbih dan tahmid yang terlantun dibibirnya. Tak henti-hentinya ia bersyukur kepada Tuhan seru sekalian alam yang telah memberinya taufiq dan hidayah kepada dirinya dan masyarakat yang akan segera ia tinggalkan. Subhanallah walhamdulillah. Lirihnya.

Lemari

Lemari. Kebutuhan pasti dalam sebuah keluarga atau semisal organisasi. Sesuai kemanfaatannya, teruntuk menyimpan sesuatu yang terbilang penting.
Dan, tepat malam ini (20/03/17) pengurus organisasi Ikatan Santri Kalimantan Barat (ISKAB) hendak membeli lemari, demi kepentingan penyimpanan file administrasi. Sebab, lemari peninggalan pra sejarah pengurus terdahulu telah lapuk termakan usia. Padahal, keteraturan administrasi dalam sebuah organisasi amatlah pentingnya. 

Pada rapat kali ini, ide membeli lemari baru atau membuat kotak segi empat panjang yang sesuai dengan kebutuhan penyimpanan berkasa-berkas organisasi, timbul dari Ust Bang Lucky. Kepekaan Ust tambun itu patut dipuji saya kira, sebab berantakan selebaran kertas itu sudah lebih daripada kesan.

Nah, hasil keputusan rapat demi terwujudnya cita-cita luhur itu, maksud saya punya Lemari yang bagus dan kuat, mengharuskan anggota pengurus agar sumbangan, karena ternyata patokan harga yang sesuai dengan selera teman-teman pengurus, seharga kayu jati. Luar biasa. 

“Bukan tidak beralasan saudara, membeli yang bagus dan kuat sehingga berkelanjutan pada penerus generasi mendatang saya kira harga bukanlah soal” Begitulah kata salah satu pengurus yang berujung dimufakati. Setidaknya, kebersamaan organisasi ini semakin solid.

Iman dan Tulisan

Ya memang. Aku sangat percaya, kegiatan menulis bagi penulis tak ubahnya iman pada seorang mukmin. Selayaknya iman yang memang mengalami pasang surut di dada, begitupun tulisan. Kadang ia bagus, kadang pula buruk. 

Tetapi jangan khawatir, sang pembawa panji rahmatan lil’alamin itu sudah menyediakan tips teruntuk manusia pada umunya yang pasti mengalami perubahan vertikal-horizontal terhadap iman. 

“Perbaruilah iman kalian” Sabda Rasulullah SAW kepada para sahabat.

“Lantas bagaimana kami memperbarui iman kami wahai Rasul?” 

“Perbanyaklah membaca La ilaha illallah” Terang Nabi Muhammad SAW.

Begitulah sumber terpercaya setelah Al qur’an itu menjelaskan bagaiman tips untuk memperbarui atau dalam arti yang sesungguhnya menaikkan rating iman yang terdegradasi. Karena memang, iman manusia pada umumnya tanpa pilih bulu, siapapun itu, pasti dan tak bisa dihindari akan mengalami pasang surut. Oleh karena itu manusia sempurna penutup kenabian itu mewanti-wanti umatnya agar tidak sekalipun dalam sehari semalam melupakan kalimat tauhid tersebut. Setidaknya sembilan kali di dalam tasyahud.

Sebab, iman golongan yang ketiga ini, maksudnya iman anak Adam pada umumnya, berbeda dengan iman para Malaikat dan para Nabi. Iman para malaikat adalah keimanan yang monoton, iman mereka tetap tak bertambah juga tak berkurang. Sedangkan iman para Nabi dan Rasul adalah iman yang tak pernah berkurang sedikitpun justru sebaliknya, ia akan terus bertambah-tambah, menapaki pelataran haqqul yaqin. 

Begitupun tulisan, seperti halnya iman ia juga butuh suplemen penting untuk memperbaiki. Nah, satu-satunya yang dapat dilakukan oleh penulis yang mengalami penurunan atau kekurangan ide dalam menulis, cuma satu yaitu, memperbanyak baca saja. Ya, cuma membaca.

Kiai Naruto

“Lam, tolong fotokan” Kata teman saya yang tidak begitu lama baru saja duduk dari kedatangannya . Ia lalu membelakangi saya. Jebreeeet

“Sudah boss”

“Coba lhat hasilnya”

“Mengge”. Memangnya itu gambar apa Mad? 
“Uchiha Sasuke” lanjutnya lagi “Uchiha Sasuke dari klan elit. Termasuk teman Naruto yang begitu akrabnya, tetapi sempat berseberangan untuk waktu yang lama meskipun pada akhirnya bersama kembali. Pertarungan terakhir antara dua sahabat itu sampai menghilangkan tangan Uchiha dan selanjutnya ia sadar bahwa Naruto memang amatlah baiknya sebagai seorang sahabat karib. Tetapi tetaplah kejahatan Uchiha tak bisa dilupakan dengan begitu mudahnya oleh rakyat Konoha Gakure dan ia pun harus diasingkan”

Abd. Shomad, salah seorang penggemar animal dari Jepang itu bercerita dengan apik. Saya sempat terpesona mendengar cerita-cerita serial Naruto terutama sekali sosok kekanak-kanakan Uchiha yang mudah terpengaruh oleh dogma-dogma musuhnya.

“Seneng sih ke Uchiha, karena dia dari klan elit” katanya saat saya tanyakan tokoh yang paling ia kagumi. “Kalau yang paling saya kagumi ya Jiraya” sambungnya lagi.

Saya tidak tahu alur cerita lakocan ini dari awal, tentu saja kecenderungan, apalagi suka amatlah tidak terbesit sekalipun ke kartun yang telah berusi dua puluh tahun itu. Nah, berkat penjiwaan suami Nurul Hikmah ini yang begitu setian menatap layar kaca laptop, katanya, saya sedikit mendapat pencerahan tentang serunya menonoton tokoh-tokoh ninja itu.

“Banyak teman-teman yang awalnya tidak suka, tetapi kalau melihat dari awal, mereka banyak yang suka” Kata Abd. Shomad, si kiai Naruto itu. 

Khalid Basalamah

Kembali. Jagat raya bangsa ini gonjang-ganjing lagi oleh kasus baru dengan berita lebih seru. Kasus tentang ketidakmenerimaan sebagian masyarakat terhadap seorang da’i kembali terjadi lagi, tetapi kali ini dengan kemasan yang lebih heboh. Beliau diturunkan dari panggung.

Khalid Basalamah, bagi pendukungnya adalah alim allamah yang bisa membawa mereka dari jalan gelap nan pekat ke jalan yang terang-menderang. Dan tidak dapat di pungkiri kiranya, bahwa beliau memang seorang yang termasuk di barisan cendekia Islam. Paling tidak cara dan penyampaiannya memang tersampul bagus. Lulusan Universitas Islma Madinah itu memang kentara sekali kelihaiannya mencekok atau mendogma pengikutnya sampai ke tahap sami’na wa atha’na. Mendengar dan melakukan.

Tetapi ada yang perlu dipahami betul oleh da’i yang bersangkutan, bahwa menguasai ilmu saja tidaklah cukup untuk menjadikan seseorang bijaksana kendati kebijaksanaan tidaklah mungkin bisa dimiliki oleh orang bodoh. Terlebih hanya menggeluti Syariat yang memang terkesan kaku. Lebih dari itu, seorang dai juga dituntut untuk menguasai metode dakwah yang tepat sehingga bisa mengena kemasyarakat sasaran. Memahami dan meneliti sejeli mungkin realita masyarakat adalah salah satu kunci kesuksesan pendakwah.

Mengapa walisongo yang hanya sembilan orang bisa menjadi magnet yang begitu kuat sampai ke seantero nusantara. Bahkan sampai hari ini kita masih mengingat betul sebagian ajaran-ajaran dan kisah perjuangan mereka. Nama-nama mereka masih bertengger di otak, pun sair-sair jawa mereka masih terlantun menggema di negeri ini. Semua itu tidaklah terlepas dari kepekaan mereka atas target dan lapangan, dan juga memenuhi syarat untuk menjadi da’i yang tidak hanya pandai ber-syariat. Tentu saja.

Barangkali ada yang bertanya, orang pidato kok diturunkan. Bukankah khilafiyah atau perbedaan harus di sikapi dengan saling menghormati?

Nah, disinilah letak kebijaksanaan dan kecerdasan spritual seseorang akan tampak sekali. Sebenarnya, Khalid Basalamah tidak masalah dimana dan bagaimanapun ia menyampaikan pendapatnya. Negeri ini adalah tempat yang paling menghormati perbedaan. Tetapi ada catatan penting yang harus di garis besar. Bahwa, perbedaan tersebut tidak sampai meresahkan apatah lagi memecah belah masyarakat awam. Akan lebih baik lagi, jika perbedaan itu tidak sampai pada masyarakat awam.

Sudah maklum, jika orang awam mendengar pendapat yang berlainan dari pengetahuannya sejak mereka ngaji di langgar-langgar akan terkejut dan panik. Terlebih tentang aqidah dan ajaran pokok lainnya dalam agama Islam. Lalu timbullah keresahan di dalam masyarakat. Contohnya seperti salah satu isi ceramah Khalid Basalamah yaitu, Orang tua Nabi kafir dan kelak bagian penghuni neraka.

Sementara pengetahuan orang-orang awam, kedua orang tua Nabi Muhammad SAW ada di zaman berkabung. Dalam arti di zaman mereka hidup tidaklah ada seorang utusan yang ajarannya sampai kepada mereka. Atau disebut juga min ahlil fatrah. Mereka berdua selamat dan kelak menjadi penghuni surga sebagaimana keterangan berikut bukti-buktinya yang lengkap dalam salah satu risalahnya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang sempat penulis baca hingga tuntas.

Andai saja jika pendapat Ust Wahabi itu disampaikan di forum-forum intelektual bukanlah menjadi soal. Bahkan Imam Nawawi juga berpendapat sebagaimana Khalid Basalamah. Sekali lagi, pendapat seperti ini tidaklah layak disampaikan di khalayak ramai.

Membuat keresahan adalah tindakan yang tak layak diberi ampun. Maka adalah tindakan yang tepat jika Khalid Basalamah segera diturunkan. Bahkan mengusir orang seperti dia adalah berstatus wajib.

Mengingat betapa marak dan mudah saja menjadi da’i, penting sekali mengetahui dan memahami betul betapa sulitnya peka terhadap kemaslahatan ummat. Setidaknya begitulah pesan Hujjatul Islam  Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Ghazali.

GMNI 

Di sore hari selepas ibadah asar, saya beranjak dari Pesantren Genteng Laok. Bersama Abd. Qodir dan Nikmat, saya menaiki sepeda motor Super Jhon. Demi mengantar photo ijazah, sepeda motor itu memekik menahan bobot berat kami yang sedang menaiki punggungnya. Sepanjang jalanan yang lurus membentang, motor itu mengarahkan kekuatannya ke titik maksimal. Asap dari knalpot pun menghitam pekat, bukti bahwa motor Yamaha keluaran tahun delapan puluhan itu telah berjuang mati-matian.

Sementara, pengendara di atasnya bernyanyi riang menikmati semenanjung senja. Pemandangan tebu yang manghampar, semakin menambah keindahan gunung-gemunung yang mencagun dari kejauhan, mengitari kebun lebar nan luas.

Abd. Qodir yang bertindak sebagai pemegang kendali setir sepeda motor, telah membelok setang motor butut itu ke arah kanan diperempatan Masjid Baiturrahman Putat Lor. Tidak lama setelah itu, perjuangan penuh duka sepada motor akhirnya terhenti, ketika kami memasuki gerbang kebesaran IAI Al Qolam. Di samping gapura, kami telah di tunggu sekaligus di sambut oleh gerombolan mahasiswa. Ya. Gerombolan.

Saya perhatikan gerombolan itu. Sebagian wajah-wajah mereka saya kenal. Dan tidak salah lagi, mereka adalah pemeluk taat Organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Dan kali ini mereka hendak berdiskusi. Terang saja saya senang sekali atas jamuan sore hari pada waktu itu (02/03/17). Diskusi ini menjadi sajian yang tidak boleh dilewatkan.

“Merdeka!” Pekik pemuda yang bertindak sebagai moderator, pemimpin diskusi. Bergelora, menjamah sisa-sisa malas yang berundak-undak di dada mahasiswa di lingkaran itu. “GMNI hanya milik mereka yang punya tekad. Yang masih memuja hura, jangan pernah menginjak kaki di tanah ini!” Lanjut  pemuda yang bernama Abd. Aziz. Mungkin maksud sang moderator, sekitaran tanah diskusi pada waktu itu. Dengan tangan yang menunjuk tanah di bawahnya. Tentu saja dengan mata mendelik sangar, ia menatap sesorang di garis lingkaran.

“Bung Rudi bakar semangat mereka!”

“Siap. Merdeka!” Seperti orator ulung saja, Bung Rudi berteriak.

“Merdeka!” Teriak lantang suara junior yang melingkar itu tanpa diperintah.

“Marhaenisme adalah salah satu paham yang menolak keras atas penindasan manusia atas manusia, penindasan negara terhadap negara. Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa, Marhaenisme pisau analisnya adalah marxisme, yang di implementasikan oleh Soekarno, harus sesuai dengan natur dan kultur bangsa indonesia. Pancasila sebagai dasar kita bernegara dan berbangsa” Bung Rudi terpejam. Sedikit tenang, sejenak kemudian melanjutkan. “Marhaenisme sebagai alat perjuangan kita melawan kapitalisme imprealisme yang sifatnya menindas kaum Marhaenisme” Begitu katanya berapi-api.

Sebenarnya jancuk sekali Bung Rudi itu. Ia membuat Bergidik bulu roma saya. Dada berdeburan. Seperti di cambuk saja, semangat saya juga terlecut. Ternyata, disaat serius, Bung Rudi tidak seperti yang saya kenal. Alhasil, semangat darah muda mahasiswa-mahasiswa di garis lingkaran itu terbakar. Semangat mereka seperti darah tahun perang, terpompa betul perjuangan mereka. Atau, mungkin saja, wajah-wajah yang tampak di depan saya, seperti wajah mereka yang awal kali mendirikan GMNI. Murni demi cita-cita anak bangsa bangsa. Tahu menempatkan diri disituasi dan kondisi adalah key of sucses. Dan benar saja, Bubg Rudi buktinya. Entahlah.

Diskusika pun berlanjut begitu serunya. Berawal dari moderator yang sok berwibawa, juga senior yang menggila, topik Karlmax semakin sengit. Semua hadirin kompak bersuara memberikan pendapat. Semakin luas. Semakin dalam. Tentu saja, semakin menambah pembendaharaan otak saya tentang Karlmax dan ideologinya yang komunis. Hach.

Lanjut kemudian, diskusi sore itu ternyata tidak hanya bertumpu pada satu sosok Karlmax saja. Mereka tergiring oleh pernyataan moderator agar dari audient memberikan persepsi tentang Pancasila dan hubungannya dengan Marhenes. Saat itulah perang argument berkecamuk. Membadai.

Sialnya, saya ingat tujuan saya semula datang ke Al Qolam. Saya harus photo untuk kepentingan ijazah. Akhirnya, dengan terpaksa sekali saya harus meninggalkan diskusi para cendekia itu. Lalu-lalang saya mencari pinjaman jaz lalu ke tempat pemotretan. Dengan terburu-buru, akhirnya masalah photo sudah kelar. Saya pun segera menghampiri lingkaran itu.

“Ambilkan kayu plaek saja” Tiba-tiba nikmat berkoar, menanggapi komentar salah satu jamaah lingkaran GMNI itu. Pertanda bahwa acara sudah usai.

*kayu plaek adalah kayu yang bertekstur lembut dan kuat. Kayu ini seringkali digunakan untuk memasung kaki seseorang penderita kelainan jiwa.