Mad Danken

Mad Danken

Mad Danken, santri paling senior yang sudah berkepala tiga hendak sowan ke ndalem Kiai. Ia hendak pulang karena –sebenarnya, tidak ada kata selesai dalam menuntut ilmu– sudah merasa cukup dan lama di Pondok Pesantren Genteng Laok dalam tapa tirakat mencari ilmu.

Sebagaimana lumrahnya manusia, ia tidak hanya dituntut mencari ilmu, melainkan mengamalkan dan juga mengajarkan pada orang lain. Toh, jika ilmu itu bermanfaat, Tuhan tidak akan hanya berdiam diri saja. Membiarkan ilmu dalam dirinya mengendap, sebagaimana hasil yang ia usahakan di pensatren. Tidak. Bahkan, Tuhan akan menambah dan terus menambah ilmu hamba-hambanya yang memgamalkan apa yang sudah diketahuinya.

Pada waktu itu, Mad Danken melangkahkan kaki pagi-pagi sekali dengan sinar ufuk timur yang masih remang-remang pucat. Matahari tak cukup hangat pada waktu menuju ndalem. Tetapi sudah dua jam yang lalu suara adzan berkumandang beserta shalat Subuh berjamaah. Artinya, Mad Danken tidak kepagian soal sowannya ke ndalem. Hanya karena gumpalan awan yang begitu tebal matahari tak terlalu terik.

Bunyi bakiak berhenti sejak enam meter sebelum sampai ke halaman ndalem. Mad Danken melepas sandal kayu khas pesantren yang disebut Terompah itu. Karena merupakan suatu hal yang tidak wajar, bila santri berjalan di depan ndalem sementara sandal masih melekat di tapak kaki.

Barangkali, Mad Danken sangat mencitai kitab Ta’limul muta’allim karangan Imam Zarnuji, berikut pengejawantahan kitab tersebut dalam kesehari-hariannya. Sebuah kitab maha karya seorang alim allamah, kitab tauladan yang sangat bermanfaat bagi pengamalnya untuk bisa mendapatkan al futuh dengan cara bersimpuh takdzim dihadapan sang kiai.

Hatinya berdeburan oleh sungkan yang begitu dahsyat. Dan pada puncaknya pengagungan pada kiai berubah rasa takut yang mencekam. Tentang alasan boyong, pertanyaan-pertanyaan kiai, lalu  bagaimana kelak ia akan menjalani hidup di luar dinding batas pesantren. Semua itu bergumul menyatu dalam fikiran-fikirannya yang berkelindan. Sebenarnya ada satu pertanyaan yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari, yaitu pertanyaan boyongnya yang sudah sejak dahulu kiai istiqomahkan pada santri-santri yang hendak pulang. Tetapi untuk pertanyaan yang lain, untung-untungan santri bisa menjawab sesuai dengan yang diinginkan kiai.

Secinta apapun pada kehidupan pesantren, gelak tawa teman-teman, terlebih lagi kajian ilmu sang kiai, tetapi santri senior itu tidak punya alasan lagi untuk terus berdiam diri di ayunan pesantren. Ia punya kehidupan di luar sana. Bapak yang sudah sebatang kara. Adik yang sebentar lagi juga harus mondok. Belum lagi tuntutan berkeluarga oleh kiblat satu-satunya itu. Alhasil, mau tidak mau, Mad Danken harus berhenti juga.

Sesaat matanya berkaca-kaca. Mad Danken memasuki halaman ndalem. Hatinya semakin bergegap-gegap. Ketika ia sampai di ambang pintu, rasa takutnya betul-betul menyeruak. Kewibawaan kiai, baginya tiada banding, bahkan raja sekalipun.

“Assalamualaikum” Suara yang harus pelan itu menyusup ke ndalem. Tiga kali kalimat perdamaian itu berolok dari luar ndalem.

“Waalaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh” Suara parau karena usia menyahut. Lalu terdengar derap langkah dari dalam menuju pintu.

“Kamu Danken” Sapa kiai yang sudah begitu kenal terhadap santri di depannya.

“Enggeh kiai” Jawab Mad Danken yang sejak tadi menunduk ta’dzim.

“Ayo masuk” Perintah kiai. Kiai masuk ke kamar dekar ruang tamu, tak lama kemudian kaos yang tadi melekat di badannya, sudah di lapisi baju koko.

“Ada apa?”

“Saya mau izin boyong kiai”

“Boyong?

“Enggeh” Katanya lagi. Kiai diam.

Sebentar kemudian datanglah seorang santri putri dengan nampan yang di atasnya menopang teh. Mad Danken tidak sedikitpun melihat wajah pembawa nampan. Ia hanya menunduk diam.

“Ayo minum” Kata kiai mempersilahkan.

“Enggeh” Mad Danken mengambil teh di depannya tanpa di perintah dua kali. Teh surut sampai setengah gelas. Mad Danken menunduk lagi.

“Apa alasan kamu boyong?”. Tanya kiai pada santri yang begitu terlihat kurus itu. Pertanyaan kiai yang satu ini, tetap sama dengan yang diajukan pada santri yang mau boyong. Kalimat beserta nadanya tidak berubah. Dan ini tentu saja menguntungkan para santri yang mau boyong, termasuk Mad Danken. Ia sudah mempersiapkan secara matang jawaban yang akan di utarakan pada kiai tanpa diselewengkan dari kejujuran. Sebab, bagi santri, jujur adalah harga mati.

“Ngapunten kiai. Selain sudah lama, saya sudah waktunya mengamalkan ilmu di luar dan berbakti pada orang tua kiai”.

“Oh. Begitu?

“Enggeh”

“Berapa tahun nyantrinya le?”

“Tiga belas tahun kiai”

“Oh. Orang tuanya ada semua?

“Boten kiai. Tinggal bapak saja”

“Baiklah. Sekarang jawab pertanyaan ini, selama kau nyantri apa saja yang kau siapkan untuk menjalani kehidupanmu kelak?”

Mad Danken diam tertunduk seketika mendengar pertanyaan kiai. Lama sekali Mad Danken membisu. Seperti memikirkan sesuatu atau menyiapkan sesuatu sebagai jawaban untuk pertanyaan kiai.

“Hanya hafalan delapan perkara saja Kiai”

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Selama tiga belas tahun kau hanya memperoleh hafalan delapan kalimat?” Sangat terlihat bias wajah kiai Badrun menyesalkan jawaban santri didepannya itu. “Kau kemanakan waktumu nak” Kiai begitu iba melihat santri di depannya.

Tiga belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ia lebih dari cukup untuk menguasai berbagi fan keilmuan.

Kendati demikian, kiai sangat mengerti mengapa santri dari madura ini hanya punya hafalan delapan kalimat. Sebab ia hanyalah santri abdi ndalem yang kesehari-harinya hanya digunakan untuk mengabdi pada guru.

“Enggeh kiai. Hanya delapan perkara saja. Tetapi saya rasa sudah cukup”

“Begitu?”

“Enggeh kiai” Jawab Danken begitu yakin.

“Sebutkan yang delapan perkara itu”

“Yang pertama, saya memperhatikan seluruh manusia disekitar saya. Kebanyakan dari mereka lebih peduli pada orang-orang yang dikasihi. Padahal orang yang mencintai itu, sebagian ada yang menemani ketika ia sakit menjelang mati, sebagian lagi hanya mengantar ke tempat kubur. Setelah itu semua selesai, ia hanya tinggal sendiri di alam kubur, mereka meninggalkannya dan kembali kerumah masing-masing. Dan saya pun merenungi hal itu, maka saya mencari sahabat yang akan menjadi karib dan penghibur saya di dalam kubur kelak. Hingga saya tidak menemukan semua itu kecuali amal soleh. Oleh karena itu, saya menjadikan amal soleh sebagai kekasih, supaya kelak ia bisa menemani saya dan menghibur pula di dalam kubur.

“Allah karim. Bagus nak. Lanjutkan” Sambut kiai.

“Yang kedua. Saya juga mengamati seluruh perjalananan hidup manusia, dan terlihat jelas sekali bahwa kebanyakan dari mereka berjalan sesuai dengan keinginan nafsu. Saya pun merenungi firman Allah SWT. “Adapun orang yang takut kepada Tuhannya dan mencegah diri dari hawa nafsunya. Maka surgalah kedudukannya”. Saya amatlah yakin seyakin-yakinnya bahwa al qur’an itu benar adanya, sehingga saya menentang keinginan buruk nafsu dan saya mengikatnya kuat-kuat dalam mujahadah, tak pernah saya layani segala keinginan nafsu hingga ia tunduk pada seluruh perinta Al haq.

“Semoga Allah memberkatimu nak. Lanjutkan!”

“Kedua. Saya juga memperhatikan seluruh makhluk, dan saya pun melihat kebanyakan mereka sibuk dan bersusah payah untuk mengumpulkan kerak-kerak dunia. Setelah semua benda dunia itu terkumpul, mereka jaga dengan nyawa mereka dan benda-benda fana itu dijadikan bahan kesenangan. Parahnya lagi, mereka semua menduga atas usahanya sendiri aterhadap hasil yang telah di raih itu. Mereka lupa pada Dzat yang memberi. Saya pun kembali pada firman Allah SWT. “Segala apa yang ada disamping kalian akan musnah dan hanyalah sesuatu yang disisi Allah lah yang kekal”. Saya mengerti. Kelak saya juga turut mencari dunia dan mengumpulkannya bertahun-tahun, maka saya tekadkan untuk disedekahkan kepada fakir miskin dan saya titipkan kepada Allah SWT supaya tetap lestari hingga kelak di akhirat ia bisa saya ambil”

“Bagus nak. Lanjutkan”

“Yang ke empat. Saya mentafakuri jagat raya ini, maka saya melihat kebanyakan manusia menduga bahwa kemulian dan keagungan tergantung banyaknya harta benda, kerabat famili, serta keturunan. Mereka pun berbangga karenanya. Juga, ada dari mereka yang beranggapan bahwa keluhuran dan ketinggian derajat dilihat dari marah dan berkata kasar dan seberapa banyak ia mengalirkan darah. Bagian ini juga berbangga hati karenanya.  Sangat janggal sekali pemahaman mereka. Saya pun lantas mencari firman yang berkaitan dalam al qur’an. Ketemulah kalam Allah SWT. “Sesungguhnya kemuliaan kalian disisi Allah terletak pada ketakwaannya”. Seperti sebelumnya, saya yakin bahwa al qur’an berkata benar. Ia sangat bertentangan dengan praduga kebanyakan manusia. Maka saya pun memilih takwa sehingga ia bisa menjadikan saya dari bagian dari orang-orang yang dimuliakan”

“Bagus nak. Lanjutkan” Kali ini, mata kiai, sudah nampak berkaca-kaca.

“Yang kelima. Saya melihat kejadian di masyarakat, sebagian dari mereka saling membenci, saling menghasud, sebab cinta dunia dan kedudukan telah mengakar dalam diri mereka. Saya pernah mendengar Al qur’an dibaca oleh kiai, yaitu, “Nahnu qosamna bainahum ma’isyatahum fil hayatiddunya”. Setelah itu njenengan menjelaskan, bahwa bagian-bagian seluruh mahkluk hidup telah ditetapkan di zaman azali. Maka saya pun ridha dengan segala apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Mengatur dan saya pun bisa leluasa berbuat baik kepada seluruh makhluk. Tanpa takut kekurangan sesuatu apapun”.

“Bagus nak. Teruskan”

“Yang keenam. Saya melihat keadaan alam semakin runyam. Sebagian dari penghuninya telah gemar saling bermusuhan yang dipantik oleh kepentingan-kepentingan pribadi serta bisikan-bisikan setan. Saya masih ingat betul firman Allah SWT. “Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata”. Tidak mungkin Al qur’an  meleset dari isinya. Saya percaya bahwa satu-satunya musuhku yang sebenarnya hanyalah setan. Tak akan saya ikuti sedikitpun dari ajakan-ajakannya. Dan karena hanya setan yang pantas dimusuhi, maka seluruh manusia bagi saya adalah saudara. Baik saudara seiman, atau saudara setanah air, atau saudara sesama manusia.

“Aduhai anankku, lanjutkan” Kiai Badrun tak kuat membendung airmata yang semenjak tadi mau jebol itu. Akhirnya kelopat itu menetes, membasahi pipi kanan.

“Yang ketujuh. Banyak sekelompok masyarakat yang menjadikan segala kemampuannya bahkan hingga menghinakan diri, hanya untuk memperoleh sesuap nasi. Oleh karena itu, tak sedikit dari mereka yang teledor hingga terjatuh dalam wilayah haram dan syubhat. Allah SWT berfirman, “Tidak satupun yang melata di muka bumi, kecuali rezekinya telah ditanggung oleh Allah”.  Saya sepenuhnya sadar, bahwa saya juga termasuk yang melata, dan itu berarti rizki saya juga ikut di tanggung. Selanjutnya, saya lebih sigap dan trengginas untuk mempersiapkan suatu bekal di akhirat yang justru tidak terjamin”.

“Bagus nak. Lanjutkan”

“Yang kedelapan. Saya melihat kebanyakan manusia terlalu mengandalkan harta benda dan kebesarannya. Sebagian lagi, bertameng pada banyaknya pengikut atau pasukan. Sebagian lagi pada sesama makhluk seperti dirinya. Saya teringat firman Allah SWT. “Barang siapa yang bertawakkal pada Allah, maka Dia akan mencukupinya”. Maka saya pasrah total atas semua keadaan saya kepada Allah. Dialah Dzat yang mencukupi dan sebaik-baik Dzat yang mewakili”

Duhai anakku. Betapa luas sekali yang kau katakan ini, seumpama mengaji taurat, zabur, injil dan al quran. Dan tentu saja yang kau katakan tadi, tidak keluar dari konteks empat kitab yang wajib diimani itu. Dan siapapun yang melakukan delapan perkara ini, berarti melakukan keseluruhan eksistensi ke empat kalam Allah dalam kitab-kitab tetsebut”

Mad Danken begitu bahagia bahwa jawaban, sekaligus yang menjadi bekal kepulangannya itu benar dan begitu disanjung oleh kiai.

“Anakku, Suluk mungkin terlalu repot. Butuh perjuangan yang tak hanya melelahkan. Sebab, sejangkal saja menarik kaki keluar, hamparan maksiat berjamur. Tapi setidaknya lakukanlah tujuan kita diciptakan” Kiai melanjutkan. “Selain itu, hari ini juga tidak akan lepas dari sapa masarakat yang memuja tubuh dan hasrat, lengah sedikit saja akan terhempas kepergaulan yang dicita-citakan Iblis. Di hari ini pula, jagat tasawwuf hanya menjadi obrolan yang begitu asik. Menggebu. Lebih ingin menonjolkan kata, agar tersingkap kesaktiannya dalam mengolah bicara” Kiai mengambil rokok surya di dekatnya. Setelah asap mengepul, kiai melanjutkan dawuhnya. “Ketika diajak pada praktek, penolakan mereka seperti orang yang sudah sampai derajat wishal. Padahal mereka yang sudah mengenal dirinya itu, telah melewati batas-batas kewajaran untuk menghukum diri dan pengabdian yang maha sulit” Kiai mengmbil nafas. “Terlalu angkuh pada pengetahuan, lupa pada tujuan awal semula itulah wajah generasi sekarang. Celakanya, sifat angkuh mereka dibarengi dengan santun yang dikemas serapi-rapinya. Puncak dari kedunguan mereka, lebih suka berkomentar tentang sesuatu yang belum mereka ketahui duduk perkaranya. Seperti bayi baru belajar kata, generasi sekarang menunjukkan cara mereka berbicara. Ego yang terlalu menguasai diri, adalah sebab dari berpalingnya mereka dari kesederhanaan kaum sufi terdahulu” Kiai tak kuasa menahan tangis haru pada keadaan zaman yang semakin tak terkendali. Sambil sesenggukan kiai berkata. “Wajar saja jika hari ini, koran dan majalah lebih berharga dari kata dalam secarik firman”.

Guru dan santri itu menagis bersama. Keadaan begitu mengharukan. Kiai, sosok yang mengejar umat itu, sangat sedih dengan kenyataan zaman saat ini. Sedangkan si santri, haruslah berjuang dengan begitu berat untuk menghadapi kejamnya peradaban yang telah bobrok dengan sebegitunya.

“Ya Allah. Saksikanlah, bahwa aku ridha kepada santri ini. Kumpulkanlah kami dengan NabiMu”

6 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s