Saputra Mubarak

Coba bayangkan, bila Anda punya anak yang berkeinginan Nyantri di usia yang seharusnya masih ada di dekapan. Ada dua hal yang pasti bergumul di dada Anda. 

Yang pertama, sisi mulia niat si anak yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Pondok Pesantren adalah salah satu wadah untuk nyegoroi ilmu agama dengan sanad keilmuan yang jelas dan bersambung pada Nabi dalam rententan guru ke guru yang panjang. Dan inilah jimat pesantren yang sesungguhnya. Mubarakah.

Atau, jika supaya anak Anda tahu ngaji saja. Atau, agar perilakunya baik. Tidak melawan orang tua dan tentunya selamat dari pergesekan zaman yang semakin biadab. Maka Pondok Pesantren adalah pilihan Anda satu-satunya. Sebab, ketelatenan membentuk karakter baik di tempat ini amatlah besar. Bahkan ketimbang ilmu itu sendiri. Inilah mutiara pesantren. 

Kedua, tentu saja karena usia anak yang seharusnya ada dipangkuan Ibu-Bapak. Jika Anda tak berhati baja, iman pada akhirat dan menginginkan anak soleh serta berbakti, Anda tak mungkin bergeming menyanggupi kemauan anak. Bisa saja Anda membelikan “Gembot” termutakhir dengan harga mahal. Jelas, urusan beres. Apabila belum mempan, bawa saja ke Mall dan ajak ia bermain. Dijamin niatnya baru dia ingat saat anak itu jadi kakek, atau nenek.

Tapi tidak pada Saputra. Dialah anak itu. Bocah yang baru menginjak kelas tiga SD, namun tekadnya untuk mondok tak perlu diragukan. Umurnya masih tujuh tahun dan ia merupakan anak tertua setelah adiknya yang masih kecil.  Kira-kira tahun 2010 ia lahir. Maka saat saya nyantri baru dapat dua tahun, Saputra masih dalam tahap cita-cita Ibu-Bapaknya. 

Wajar saja jika tingkah kekanak-kanakannya masih begitu melekat. Saya masih ingat betul ketika tengah malam ia menangis hendak nonton Film anime Upin Ipin. Atau, ketika ia berlari telanjang bulat dari kamar mandi ke kamarnya setelah mandi. Dan tentu saja pemandangan tititnya yang mungil itu tak bisa dihindari. Tidak disensor sudara. 

Saya sepakat, jika niat Saputra dan langkahnya yang berani, dijadikan contoh sekaligus cambuk penyemangat oleh mereka yang enggan untuk nyantri. Terutama sekali bagi orangtua.

Nah. Siang tadi (01,08,17), anak itu merengek manja ingin ikut ke Gondanglegi. Ceritanya ia mau dibelikan baju koko oleh orang baik hati lagi dermawan. Karenanya, dituruti saja kemauannya. Lalu singgahlah di Latar. Saya pikir Anda tahu perbedaan Latar dengan Taman Kanak Kanak, sebelum-sebelumnya. Maka tak perlu dijelaskan ketika adik kecil pengagum sosok Upin itu menginjakkan kaki. 

Dan Film anime Upin Ipin itu, ternyata amatlah membias dalam kehidupan sehari-seharinya. Iya. Saya dipanggilnya Atuk Dalang. Gus Fawaid Opah. Ust. Yusroful Kholili,  justru mendapat penghargaan, ia dijadikan saudaranya: Ipin. 

Ust. Umar Faruq sebagai Jarjit, dan semua nama-nama tokoh dalam anime Malasyia itu tersemat jua kepada yang lain. 

Sudah ya saya harus mengantarnya ke kamar mandi. Ee’.



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s