Dastam

Seperti kemaren yang masih tertimang oleh kelemahan diri oleh amarah. Oleh dendam. Oleh putus asa. Saat ini benar-benar berada dilevel puncak. Dengan mata nanar Dastam meregang. Matanya melotot, ruhnya begitu meronta menolak  masuk ke alam baka. Ancaman yang dulu ia abaikan terlihat begitu jelas membentang. Tersengal-sengal Dastam mempertahankan nafas-nafasnya.  Ia menggeliat lalu diam. Jantungnya berhenti berdetak.  Darah berhenti. Nadi tak lagi berdenyut. Sendiri memasuki gerbang kematian. Matanya terbelalak seperti melihat gerbang neraka jahanam. 

Sebagian handai tolan mengurus jenazahnya yang telah hangus. Lalu mengantar jasadnya ke tempat pemakaman umum. Enam keluarga yang masih perduli kehambaannya, mengais ampun pada pencipta di atas gundukan tanah penyimpan mayat Dastam. 

“Dimana aku?” Dastam bertanya tanpa ia tahu kepada siapa pertanyaan itu dilayangkan, tempat gelap serta berbau busuk itu menciutkan nyali banditnya. 

“Kau di alam kubur anak jadah! ” Suara itu menggelegar dengan volume tinggi menggetar, memekakkan telinga Dastam. 

Rupanya begitu buruk. Nanah yang bergelembung, mata merah, bibir yang hampir lepas menambah sangar penjawab pertanyaannya. Sosok itu menatap Dastam dengan sinis. 

“Hei.  Kau siapa?” 

“Aku amalmu didunia. Dan aku yang akan menemanimu ditempat pengasingan ini” 

“Sampai kapan?”

“Sampai kiamat”

“Lama sekali”

“Ia”

“Kenapa kau begitu buruk seperti itu? Dan baumu itu,  busuk sekali”

“Kau kira amalmu didunia tidak seburuk aku.  Aku adalah jelma amalmu. Tidak kah kau paham pernyataanku? ” Sosok itu, entah karena tersinggung atau karena memang sifatnya yang tempramental seperti halnya Dastam, bangkit dan menghardiknya yang semakin mundur dipojok ruangan segi empat itu. Dastam tersirap,  ia baru sadar bahwa jiwanya telah berada didunia ketiga. Alam kubur. 

“Tidak.  Tidak. Tolong tinggalkan aku. Aku tak kuat jika harus selalu bersamamu. Pergi! ” Ia kibaskan tangannya kuat-kuat untuk mengusir. Lalu ia memeluk kepalanya sambil menelungkup. Temannya acuh tak acuh menanggapi pengusiran Dastam pada dirinya sendiri. 

Dastam untuk beberapa waktu yang sangat lama harus mencium bau amis dirinya sendiri. Juga bau temannya yang semakin menyiksa saja. Hidungnya tak pernah lepas mengindera bau pesing nan busuk. Matanya telah gelap, lupa indah gemerlap dunia. Mulut,  tangan,  kaki, telinga,  kelamin sudah menjadi pasukan iblis yang memerangkap dirinya dalam dunia bergelimang dosa. Dastam terisak-isak, begitu sedan lalu melolong. Ia hanya bisa geram sesal yang tak mungkin lagi berubah kesempatan. 

“Masih ingat perempuan itu?”

Kisah bejatnya berputar. Temannya itu semacam kaset DVD yang merekam semua tindak buas kebinatangan yang bersarang dalam wujud manusianya. Dastam ingat semuanya, lalu bercerita kepada dirinya ketika temannya yang buruk itu bertanya tindakan-tindakan binalnya di dunia.  

Dastam diam dan tidak memperdulikan pertanyaan itu. Pikirannya bergelayut pada sosok perempuan yang sangat miris. Perempuan yang begitu tertancap terlalu dalam direlung-relung masa lalunya. Perempuan yang seharusnya sangat pantas untuk dikasihani. Perempuan hamil itu. Jika dunia kelam pernah membuatnya sesal, maka cuma perempuan itu dari sekian perempuan yang pernah Dastam habisi

***

Waktu itu daun tebu masih begitu tenang melambai-lambai diterpa sepoi angin senja. Batangnya yang tak begitu tegap masih cukup gagah menahan hembusan angin barat menuju timur. Sejuk dan sangat lembut mengelus ubun-ubun siapaun yang diterpa, atau bahkan yang melawan arahnya, angin senja masih tetap sangat ramah, seperti memahami bahwa manusia-manusia itu memang tak bisa disinggung sedikitpun. Kebijaksanaan yang sesungguhnya hanya diperlihatkan oleh yang paling berkuasa. Itulah angin. Tak ada satu pun makhluk atau kekuatan apapun yang bisa melawa jika angin senja itu tiba-tiba saja membadai. Atau berhenti satu jam saja. 

Angin terus berhembus, menyusup ke jendela-jendela,  kepintu-pintu meski tak sedikit yang tak memperhatikan. Burung-burung berterbangan di atas hamparan kebun-kebun tebu, gundukan-gundukan tanaman sayur yang berundak. Sambil berkicau merdu burung-buung itu memberi ketenangan lebih pada desa Lembah Curug. Menghibur ditengah hingar-bingar dunia yang sudah penuh sesak dengan kebiadaban. 

Belalang tak perduli dengan hembusan angin senja atau pada kebrutalan-kebrutalan, pada dendam-dendam. Ia lebih memilih bersenggama dengan kekasihnya di ranting-ranting daun tanaman Cabe dengan merenda rindu. Ia lebih tak perduli lagi pada matahari yang sebentar lagi berpindah tugas. 

Angin terus berhembus, menyusup, menyapa, hingga sampai pada rumah disamping kebun paling ujung. Rumah itu riuh dengan suara dua manusia yang saling membentak. Seperti mengadu emosi yang diwakilkan pada mulut. 

“Dastam! Kalau kamu tak mau nurut apa kata bapak. Pergi! Pergi dari rumah ini!” Bapak Dastam mengambil nafas. Mengatur emosi yang begitu megap-megap.  Lalu melanjutkan “Kamu pikir perjodohan ini, bukan demi kebaikan kamu sendiri” 

“Tapi aku tidak cinta bapak”

“Tidak perlu. Kau cukup nurut!”

“Bapak pikir, nyaman serumah dengan orang yang tidak di cintai?”

“Fathimah kurang apa Dastam? Dia cantik. Anak baik. Penurut. Kurang apalagi?”

“Dastam tidak mau. Sudah ada orang yang Dastam sayang”

“Jangan membantah Dastam!”

“Kalau, begitu,  nikahi saja sendiri”

Plak. 

Tangan besar berumur lima puluh tahun itu melayang dengan posisi telapak kebawah lalu menukik tepat di wajah bagian depan. Tangan di tubuh tinggi dan berotot dengan kekuatan maksimal membuat yang terhantam menyeringai kesakitan. 

Dastam menatap bapaknya dengan sorot mata penuh murka, mulutnya bergelutuk. Ia tundukkan mata yang menggambarkan hatinya yang begitu panas membara. Jika penampar itu bukan pemilik darah dagingnya, sudah barang pasti ia bergulat. Tentu saja. 

Pemuda berumuran dua enam itu melengoskan wajah dan pergi kepintu setengah berlari. 

“Kau ingin aku pergi. Baik!”

“Pergi! Jangan kembali lagi! Pergi!”

Dastam beranjak dari rumah kayu atap daun itu. Berlari meninggalkan bapaknya yang begitu marah padam, lalu mereda,  tambah mereda, dan selanjutnya menjadi sedih dengan segala bentuk perubahan yang begitu drastis atas anak semata wayangnya. 

Bapak yang ditinggalkan itu masih ingat betapa bahagia ketika anaknya itu mau mengaji di surau beberapa tahun silam. Pada waktu itu harapan pun menyeruak di dada, kelak anaknya menjadi orang baik dan tidak akan meniru jejaknya. Tekad pun bersambut. Bekerja dan berubah baik harus diusahakan sejak tiga  tahun yang lalu. Tetapi sebentar saja Dastam mengaji. Dua tahun. Setelah dia dan istrinya selalu bertengkar Dastam berhenti dan memilih kerja untuk menjadi penengah asal konflik. Lalu berubah semuanya. 

Sedangkan Dastam tak peduli. Ia bertekad untuk meninggalkan bapak untuk selama-lamanya. Baginya bapak yang telah ditinggal mati oleh ibu itu sudah begitu kelewatan. Apa salahnya sehingga harus diperlakukan seperti itu, dan itu tidak hanya satu kali. 

Tidak ada pilihan lain kecuali meninggalkan bapak sendirian sampai nyawa tercabut. Biarlah mantan bajingan yang secara tak sengaja mengeluarkan dirinya dari mani haram itu membusuk sendiri. Apalagi, gara-gara nafsu binatangnya, Dastam sudah lama harus bertanggung jawab atas asusila bapak. Anak jadah telah menjadi aib semenjak ia lahir. Iya, Dastam anak zina.

Dan sekarang, entah bisikan malaikat dari mana, semenjak satu tahun yang lalu, bapak selalu memaksa dirinya untuk kawin dengan gadis yang sama sekali tidak dicintai. Hanya karena takut meniru laku iblisnya. Bajingan! 

Dastam terus melangkah menyusuri jalanan lurus membentang. Satu-satunya lintasan yang menuju jalan raya dari rumah. Jalan aspal yang kanan-kirinya penuh dengan tebu dan dedaunan yang menjuntai melambai-lambai. 

Angin senja sudah berganti angin malam. Memberi kesan-kesan angker di jalan yang temaram oleh lampu agak kemerah-merahan. Langit mendung. Bulan dapat giliran tugas ditempat lain. Langit dibawah Dastam begitu gelap. Seperti dirinya yang kalap. 

Tiba-tiba langkahnya berhenti. Wajahnya datar. Matanya terbeliak.

“Kepalang tanggung” Katanya. Jelas sekali dendam itu bergolak. lebih-lebih Dastam tak menyimpan uang sepeserpun. 

***

Derap langkahnya begitu jelas kalau ia sedang berlari dari gubuk yang ditinggal pemiliknya ketika malam. Nafasnya naik turun begitu cepat. Jalan sudah terlihat sangat jelas dari sorotan lampu pengendara sepeda motor yang semakin terang. Petunjuk bahwa bahwa mangsanya itu sudah dekat. Tangannya mencabut pedang dipinggangnya yang sejak kemaren ia tempa. Dada dastam berdegam-degam menunggu korban pertamanya yang akan di bantai. 

Pembegal hanya seorang diri tanpa pengalaman, tentu adalah masalah serius di dunia hitam. Jika berhasil, berpeluang besar unuk dinobatkan sebagai raja di kancah dunia kejahatan. Tetapi jika sebaliknya, resiko yang tak tangung-tanggung harus ia terima. Mati dengan cara paling mengenaskan. 

Di semak-semak kebun tebu, ia bersembunyi menanti menit-menit yang akan segera menebas leher buruan pertama. Matanya begitu liar. Ia perhatikan jalan begitu sepi. Tak satupun motor yang melintas dari belakang dan depan mangsanya. Tangannya semakin kuat mencenkam senjata. Dastam sudah siap dengan posisi meloncat disamping sepeda motor. Posisi dirinya dan buruan harus betul-betul matang, antara meloncat, menggertak lalu menebas. Harus seketika dan seketika. 

“Woi”. Bentakan keras Dastam membuat pengendara motor tersentak dan seketika itu pedang menebas leher. Darah muncrat. Tubuh terpelanting bersimbah darah. Korban pertamanya itu memegang lehernya, menahan aliran darah yang menyebur deras dari urat besar yang putus. 

Dastam tertawa senang kesetanan. Segera saja tubuh sabetan tanga berdarah pertamanya itu digiring ke got pinggir jalan yang sudah dipenuhi rerumputan. Keringat dingin Dastam jatuh juga di malam pertama paling berdebar itu. Tepat jam 02:50 Dastam meluncur ke Kota mencari pembeli motor blong. 

***

Manusia adalah pemburu sebenarnya. Dengan watak yang begidal, makhluk yang penciptaannya ditentang oleh malaikat itu tidak perlu belajar terlalu banyak untuk menjadi pembunuh. Hanya dengan sekali berani menusuk dan memotong tubuh korban akan menjadi pengalaman yang terus menjadi guru secara otomatis. Apapun bentuknya, kejahatan adalah candu yang sangat kuat. Sekali dilakukan, ia akan berbiak-biak.

Dastam buktinya, sepak terjangnya di dunia begal telah begitu banyak menelan korban yang terus bergelimpangan. Dalam tempo waktu tiga bulan, Dastam telah menjelma malaikat maut. Sudah limabelas motor yang terjual, setelah sebelumnya pemilik motor itu hanya melihat Dastam dengan topeng untuk yang terakhir kali. Untuk selanjutnya minuman tuak dan pelacur-pelacur kota yang mengangkang, menyambutnya di pesta yang bergelimang hura. 

Tak sekalipun Dastam merasa kasihan pada korban-korban kebengisannya. Ia seperti singa lapar penguasa rimba itu. Bengis dan sadis. Bukankah semua akan mati juga. Dan saya aku mempercepat. Begitu jawaban yang sering ia katakan pada suara dari sumber terdalam dirinya yang kadang meronta. 

Terkecuali perempuan hamil yang begitu mengiba meminta belas asihnya. Mata korban yang memelas itu menatap Dastam. Sorot mata penuh amarah yang di timbun harapan ampun. 

“Tolong ampuni saya. Saya hamil. Kasihani saya. Silahkan ambil motor itu”. 

Wanita itu begitu mengemis di samping mayat tak berkutik. Dastam diam. Ada iba yang begitu kuat merasuk sukma. Perempuan itu serta merta mengingatkan Dastam pada ibunya. Ibu yang sudah bertahun-tahun meninggalkannya kini hadir ditubuh korban. Dastam tercengang. Ia sangat yakin semua itu hanya ilusi yang diciptakan oleh rindu dan sayup-sayup ampun. Sekejam apapun Dastam, hatinya goyah. 

Sejak pertama kali Dastam mencium bau amis darah korban ditangannya, baru kali ini saja ia bersedih hati dan bimbang untuk mengeksekusi.

“Ampun. Ampuni saya” Perempuan itu terus memohon di kaki Dastam. 

Tapi bagaimanapun dunia kriminal adalah rahasia diatas rahasia. Sialnya, perempuan itu melihat wajah Dastam, sebab topengnya masih di aspal yang jatuh karena masih sempat bertarung dengan suami perempuan itu sebelum mengerang lalu berhenti bergerak untuk selama-lamanya. Dalam dunia kriminal, melihtanya perempuan itu adalah hal yang paling haram. 

Dastam mengangkat pedang. Ia berteriak sekeras-kerasnya lalu menebas leher perempuan itu. Seperti ditarik kekuatan gaib, air mata yang sudah lama tak keluar itu meleleh sedikit.  Lalu kering oleh laju motor korban. 

Dastam telah melanglang buana di dunia kejahatan. Baginya, membunuh dengan hadiah motor dan semua harta milik pengendaranya, sudah menjadi pekerjaan yang paling asik. Ia pun semakin banyak tahu erangan-erangan kematian yang menunjukkan jati diri mangsa terkamannya. Dan tak perlu lagi mengendap-endap dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Sekarang ia hanya cukup memperhatikan seperlunya saja, jika sepi, bisa dipastikan pengendara motor terkapar. Semacam seni lukis, ia seringkali memberi garis pola bentuk D di dada korban. 

Dastam lupa, bahwa dirinya juga punya dinding yang membentang di depan. Yang begitu kuat dan tak mungkin jebol dengan sabetan pedang atau sekedar tinju. Dinding yang akan menghentikan kebiadaban-kebiadaban manusia. Yaitu maut. 

Celakanya, Dastam hilang kesadaran untuk memikirkan cara terbaik menjelang mati, yang setidak-tidaknya menghembuskan nafas terakhir di dalam kamar. 

Sementara, masyarakat Lembah Curug resah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Begal tak kunjung tertangkap. Lembah yang kesohor dengan desa kecil seribu bajingan itu tercoreng. Nama besar para bajingan di desa dengan air melimpah ruah itu merasa seperti di telanjangi di depan banci.

Masyarakat lembah sudah berbulan-bulan diteror takut, menjadi tanggung jawab sendiri bagi bajingan-bajingan. Sebab,  umumnya, bajingan adalah dan harus jadi malaikat bagi masyarakat di tempat tinggalnya. 

Untuk ketiga kalinya keamanan lembah itu berkumpul, membahas jebak untuk begal yang semakin merajalela saja. Umpan dengan manusia sakti lalu tapal kuda, sepertinya pilihan terakhir untuk menangkap begal ganjil itu. 

***

“Itu dia” Teriak pengepung yang menghadang seseorang yang terengos-engos menyelamatkan diri dari kejaran penyergap ditengah kebun-kebun tebu. 

“Tangkap. Bunuh!” Teriak lagi dari arah selatan. Teriakan itu membuat pemuda yang terkepung itu semakin pucat. Detak jantung semakin kencang berdebur. Tapi bukan karena sebab lari saja, lebih dari itu, siksa sadis penduduk pada dirinya atau pastinya dibakar begitu jelas adalah akhir hayatnya.

Crash. Pemuda itu terpelanting. Punggungnya sobek oleh sabetan celurit dari belakang. Ia roboh, tubuhnya basah oleh keringat bercampur darah. Pemuda itu mencoba bangkit, belum sempat berdiri, kepalanya di bentur kayu balok seukuran paha orang dewasa. Ia terkapar berkalang tanah. Tiba-tiba saja di depan matanya kunang-kunang berdansa ramai. Lalu gelap.

Pemuda yang bernama lengkap Dastam Permana itu sudah tidak sadarkan diri. Ia tidak tahu bahwa betisnya di pukul hingga terdengar retak. Mukanya hancur oleh bogem-bogem mentah, balok, kaki, hingga wajahnya sulit untuk dikenal. Terlebih lagi malam yang gelap. Lampu senter terlambat menyentrong wajah Dastam, wajah tampan berkumis itu keburu hancur oleh amuk puluhan bajingan. 

Dastam diseret. Bapak dan masyarakat Lembah Curug, yaitu desanya sendiri, bergegap pesta semalaman bersama api unggun. Juga tubuh Dastam dan dendamnya. Tentu saja.[]

19 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s