Kentutu

Fart nama inggrisnya. Nama lokalnya kentut. Dalam bahasa Madura, ia di sebut kento’. Tetapi saya menyebutnya kentutu, supaya lebih elegan. Apapun namanya, yang jelas ia angin yang keluar dari lubang bergelombang lagi hitam nan pekat. Seperti lembah berhantu, lubang itu sarat petaka.

Biasanya, jika angin segar itu baru keluar, meninggalkan kehangatan semu. Selanjutnya, adalah bau yang ia tawarkan. Begitulah angin yang kadang-kadang berbunyi tiiiiit, tuuut, tiuut, atau broood itu. 

Kentutu sendiri, terdiri dari 59% nitrogen, 21% hidrogen, 9% metana dan 4% oksigen. Hanya 1%, kentutu yang mengandung gas hidrogen sulfida dan markaptan yang mengandung sulfur. Nah, sulfur inilah yang  membuat kentutu “apruangan”. 

Maka, lumrah saja jika ada orang kentutu, lalu dengan sigap orang-orang disekitarnya dengan serempak menutup hidung. Lumrah pula, jika suara serampangan nan bau itu keluar dari samping teman misal, lantas kita berucap “apa-apaan ini!” 

Tetapi siapa sangka, bahwa ada sebagian orang-orang tertentu yang malah dengan bangga menyuarakan kentutu. Katanya “Saya ingin memerdekakan kentutu dari diskriminasi perbauan”. Bahkan, di Negeri China, bau kentutu bisa mengangkat derajat seseorang. 

Yang lebih mengesankan, ternyata pembahasan kentutu tidak hanya sebatas tentang baunya saja dalam kultur masyarakat, atau tentang kandungan gas-gasnya saja dalam ruang lingkup ilmiah. Bahkan kearifan syariat pun, bersikap serius. 

Jika Anda sedang jagongan atau tahlilan, maka sesuai norma  adat ketimuran, jika Anda kentutu tanpa di silent, Anda pasti malu oleh tatapan mesra orang-orang disekitar. Itu pasti. Namun, jika di tahan Anda bisa mengalami kembung. Dalam kasus terburuk, menahan kentutu berakibat wasir dan gangguan usus. Jika terlalu sering bisa berakibat fatal, ginjal taruhannya. 

Ceritanya begini. Ketika Anda terbiasa menahan kentutu, lama kelamaan usus akan menyusut, mengecil pada pangkal. Ia sekali-kali bisa rusak. Maka, usus harus di potong di ruang operasi. Sialnya, uang Anda baru saja di pakek bayar cicilan rumah, mobil, motor, kulkas, tipi, seterika, sendok, kuali, dan sandal. Anda pasti tergeragab dengan sisa uang yang apabila di pakek oleh urusan yang berawal dari kentutu ini, kiamat dapur bisa terjadi. Sementara, usus sudah di tahap gawat darurat. Tidak ada pilihan lain. Ginjal Anda mesti di jual. 

Disinilah dilema rumit kentutu. Anda harus betul-betul bijak menyikapinya. 

Karena kasus di atas, wajar bila ada yang bilang “Bisa kentut saja, itu sudah nikmat yang luar biasa”

Di lain kasus, Anda hendak shalat, sedangkan perut Anda baru saja di isi Telur atau Jengkol atau Pete, misalnya. Sudah barang tentu, kandungan gas-gas dari ketiga makhluk itu mengharuskan “itu-nya” Anda mengeluarkan kentutu. Kalau Anda tahan sambil shalat maka hukumnya makruh. Hukum makruh adalah perbuatan yang boleh-boleh saja dilakukan, tetapi kualitas ibadah Anda bernilai min. Tentu saja, dengan kadar ibadah yang minus, jika Anda punya cita-cita masuk surga, terpaksa harus ngantri dibarisan paling belakang. 

Sederhananya begini, bahkan perkara kentutu saja, kalau disikapi sak kareppe dewe, juntrungnya beresiko fatal.

Atau, jika bunyi “pessst” itu tiba-tiba lepas saat Anda shalat. Maka batal lah shalat anda. Jika sedang  berjamaah, maka Anda keluar dengan cara pura-pura menutup mulut seakan-akan ada masalah. Itu salah satu cara agar Anda tidak di rasane. Apabila sendirian, sudah pasti bokong Anda diomeli habis-habisan. 

Lanjut kemudian, Anda menunda shalat karena tertebas malas. Sambil menunggu hilangnya makhluk aras-arasan itu, Anda nonton Game Of Throne endingnya, Anda ketiduran. Waktu shalat habis. Maka, Anda tahu sendiri, tiket surga adalah shalat. Dan gara-gara kento’ saja, anda tertunda masuk surga. 

Kesimpulannya begini, hanya dengan me-manajemen kentutu secara apik, Anda sudah bisa masuk surga. Tidak harus mengkafir-kafirkan, membid’ah-bid’ahkan. Atau, cukup kentutu sebelum shalat, lalu wudhu dengan baik, tak usah membesar-besarkan masalah surban Kiai Nusantara.

Loh! Ini serius broh!

5 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s