Pocong

Aku adalah hantu. Manusia yang sedang mendapat berkah melihatku, selalu menyebutku pocong. Maka dikalangan mereka, aku lebih terkenal pocong daripada nama yang aku inginkan. Hantu keren.

Biasanya, sambil teriak-teriak kegirangan, mereka berlari kesenangan untuk bercerita kepada teman-temannya. Bahkan sampai ada yang pingsan saat tidak sengaja bertatap-tatapan. Sering sekali aku berfikir, sebenarnya suka yang seperti apa sih, kok sampai begitu?

Mbokyo jangan sampai begitu.  Sebab, Segala sesuatu itu seyogyanya disikapi sedang-sedang saja. Karena tidak sedikit orang yang paling dicintai menjadi yang paling dimusuhi dengan teramatnya. Atau yang sangat dibenci malah menjadi si buah hati belahan jantung.

Dulu pernah ada yang sampai aku ikuti saat bertemu hingga ketempat ia menemui teman-temannya. Yah, sekedar ingin tahu bagaimana ekspresi dan tingkahnya saat bercerita karena melihatku. Seringkali sifat mereka yang menggelikan malah membuat kita kita penasaran.

“Aaaaak Pocong” Katanya, begitu kesan pertamakali dia melihatku. Tidak bisa dibayangkan bagaimana bangganya dia bisa menatapku. Sangat terlihat sekali dari matanya yang melotot, bibirnya yang agak gemetar karena takjub. Entah. Sepertinya tidak ada kebahagiaan lagi baginya setelah ia berjumpa denganku. Ku ikuti saja langkah kencang kakinya yang berderap-derap. Mungkin jantungnya bergegap-gegap untuk segera bercerita.

“Aku melihat Pocong” Katanya, dengan bangga.

“Dimana? Dimana?!” Orang-orang yang bergerombol di tempat warung kopi itu bertanya serempak. Ampun. Aku kira diantara mereka ada yang tidak peduli. 

“Di jalan Anggrek” 

Aku pun segera beranjak dari tempat itu seraya geleng-geleng. Aku tidak tahu lagi untuk membayangkan bagaimana orang-orang disekitarnya yang akan segera menyanjung pemuda beruntung itu dengan sedemikian dahsyat. Meskipun, sebenarnya ada kekhawatiran dalam lubuk hatiku, jangan-jangan ia tidak bisa tidur karena terbayang-bayang pertemuan itu. Karena pernah suatu ketika, aku lewat di jalan yang agak jauh dari sekumpulan manusia, mendengar mereka bercakap-cakap tentang orang yang bertemu diriku. Ternyata orang tersebut sulit tidur. Duh gusti. Semoga ia tidak mencintaiku. Masalahnya dia itu lelaki. 

Sejatinya aku harus bangga sekali bisa terkenal dengan sedemikian. Banyak dari golongan hantu apalagi golongan manusia yang ingin sekali meraih ketenaran. Bahkan kebanyakan dari mereka sering melakukan apa saja dan menghalalkan segala cara demi meraih masyhur.

Sialnya, aku tipikal hantu yang tidak suka riya’ atau pamer ke hantu-hantu yang lain. Misalnya Kuntilanak yang ketawannya bikin muak, dia sering caper. Naik pohon terus ketawa manja. Aku tidak seperti janda itu.

Aku juga tidak seperti Gandruwo yang sok ganteng. Kalau ada diantara hantu yang paling kubenci, ya cuma hantu gondrong yang temprament itu. Dasar adik iparnya Grandong. Dan masih banyak lagi hantu-hantu yang tidak laku tapi berlagak selebriti. Ya sebut saja Wewegombel, Tuyul, Jin Tomang, atau Temangmang yang sok dengan api kepalanya

Mungkin cuma aku saja yang tidak suka disanjung seperti itu. Dan, terpaksa aku harus sembunyi-sembunyi jika ingin keluar cari udara segar. Jual mahal. Begitulah kira-kira.

Tempat tinggalku ada di Kuburan Umum, Jl. Anggrek. Fans-fans yang ada di dekat kediamanku, terkadang satu seminggu sekali membersihkan halaman. Aku kadang tersenyum ketika melihat keikhlasan mereka. Aku masih saja terus berfikir kalau melihat ketulusan mereka yang mengagumi dan begitu mecintaiku. 

Kok sampai segitunya mereka mengidolakan diriku?

Ketika pertanyaan yang sering terlintas itu timbul, aku cuma bisa senyum sambil geleng-geleng. Kendati demikian, kadang hatiku bergejolak haru saat sayup-sayup telingaku mendengar percakapan mereka tentang kepribadianku, tentang mata, juga tentang fashion dan jalanku yang santun. Rasanya ingin sekali keluar dan menyapa mereka. Tapi sayangnya, mereka berkumpul disini hanya di siang hari saja. Belum lagi kameramen wartawan yang bakal pasti cekrak-cekrek. 

Tau sendirilah. Bisa seharian mereka minta selfi bareng. 

Masih tentang histerisnya mereka kalau bertemu denganku. Iya. Ternyata, segala kesempurnaan serta segala mahligai keindahanku, menjadi masalah dalam kisah asmara.

Astuti misalnya, dia tidak henti-hentinya berteriak riang ketika melihatku. Setiap kali bertemu, dia histeris dahsyat. Lalu memanggil ayah dan mamanya. Sudah beberapa kali aku ingin mengatakan perasaanku pada gadis itu. Tapi selalu saja begitu. Disitu terkadang aku merasa sedih. 

Meskipun begitu aku punya cita-cita terbesar di abad ini bersamanya. Ya. Makan nasi goreng di Cikeas.

One comment

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s