Semut Hitam

https://i0.wp.com/kepoan.com/media/uploads/2015/11/kepoan.com-mitos-rumah-pembawa-keberuntungan-1-filipina-536x360.jpg

Ia terus saja menggerayangi tubuhku. Pertama-tama hewan kecil berkaki empat itu menjajak bagian-bagian tubuh. Dari jemari tangan lalu lengan dan kemudian ia sampai pada wajah setelah melewati anggota badan yang paling bidang. Dada.

Entah apa yang dicari hewan pecinta gula itu. Tiba-tiba saja ia memasuki telinga. Masalahnya, diriku lemah tak berdaya, bahkan untuk sekedar mengangkat tangan lalu menyibak semut itu. Tidak bisa. Maka terjadilah petaka.

Sialnya lagi, semut itu tidak mau keluar-keluar. Bak pendekar bertapa saja, semut hitam, dalam tenggat waktu yang lama, terus berdiam diri di dalam indera pendengaranku. Telingaku sakit sekali. Seperti ditendang-tendang saja. Ditendang semut

Di saat rasa sakit yang semakin mendera, sejenak aku masih sempatkan otakku untuk berpikir dan mencari alasan yang paling memungkinkan. Kenapa semut itu masuk ketelinga? Apa mungkin ia sedang ingin uzlah? Loh, kan bulan puasa.
Atau jangan-jangan semut itu sedang putus cinta, atau lamarannya di tolak.
Siapa tahu saja, semut kecil bangsat itu nasibnya sama seperti diriku.

Telingaku sakit sekali. Semoga semut sialan itu akan keluar setelah beberapa jam kemudian. Saya berharap semut hitam itu akan merasa kesepian sehingga dengan begitu, ia akan keluar dengan sendiriya. Sebab, jika dipaksa keluar akibatnya bisa fatal. Semut itu malah ketakutan untuk sekedar melongokkan kepala. Akibatnya, ia bisa bermalam di telingaku.

Ya. Tidak ada cara lain kecuali semut itu harus keluar dengan keinginannya sendiri. Caranya buat ia merasa sendiri. Dan ia harus tahu betapa tragisnya nasib seorang jomblo. Dan, ia akan segera keluar mencari cinta. Sebab berlama-lama hidup sendiri memangnya siapa yang betah?
Apalagi dikedalaman lubang telinga. Pengap. Gelap dan Umh, Bau. Terang saja.

Aku pun bernyanyi sekeras-kerasnya, lagu wali yang berjudul JODI. Lima kali lagu itu saya ulang-ulang. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Terdengar gerakan kakinya melangkah keluar. Saya pun menyanyikan lagu semakin keras. Semut semakin beranjak. Semakin keras. Semakin beranjak. Semakin keras. Semakin sakit.

Semut itu bermesra berduaan di bilik gendang telingaku. Sesaat sebelum saya pingsan ada semut betina yang kebetulan lewat. Dan ternyata semut itu handal merayu.

9 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s