​Malaysia, dan Hubungannya dengan  Firts Travel dan Syaikoji

Ada dua kemungkinan, mengapa Malasyia membuat onar pada bendera negara Indonesia. Maka sebelum mencerca mereka, perlulah kiranya tuan-tuan dan nyonya-nyonya membaca alasan di balik kritisnya Sang Saka Merah-Putih.

Pertama, Malaysia tidak tega kepada bangsa Indonesia. Negara Indonesia jika diibaratkan artis, seumpama pelawak, sudahlah tidak lucu, pentas roboh. Apabila dengan alasan tidak tega maka dunia semut pun begitu. Nyamuk malah meratap berhari-hari.

Rakyat Malaysia sangat bersedih hati dengan susana keruh yang selama ini membanjir di negeri berbendera merah-putih. Kedamaian dan sentosa, dalam pandangan mereka, amatlah susah menjejakkan kaki di bumi pertiwi lalu menjernihkan. Sebab, saling caci sesama anak negeri telah merata. Tuduh menuduh saudaranya komunis sudah bukan perkara tabu lagi. Kafir mengkafirkan sesama golongan seperti dzikir di pagi dan sore hari. Korupsi menjadi cita-cita melampui keinginan haji. Belum lagi kasus Firs Travel yang membuat ribuan Jamaah umroh harus belajar lebih tabah dari susahnya memgumpulkan uang demi pergi ke tanah suci.

Dengan bendera di cetak terbalik, Indonesia, di gadang-gadang bisa bersatu kembali. Sebab, tak ada cara lain mengalihkan kasus demi kasus yang sudah akut di negeri ini, kecuali bendera kudus itu solusinya. Dengan harapan, bangsa Indonesia bersatu lagi, saling berangkulan, dan hujatan pada sesama anak negeri yang sama-sama lahir dari rahim Indonesia bisa berhenti sejenak. Sukur-sukur untuk selamanya meskipun itu mustahil. 

Tetapi setidaknya, masalah agama tidak perlu lagi dicabuli. Atau jangan berbuat sesuatu yang sekiranya agama dijadikan alat keuntungan pribadi. Inilah titik paling mencekam akhir-akhir ini.

Oi. Siapa kiranya yang tidak muntab.

Apakah tuan-tuan dan nyonya-nyonya tahu, bahwa pengacara korban First Travel hendak ndemo pemerintah, menuntut ganti rugi uang 550 M di Masjid Istiqlal? 

Apakah mentang-mentang mereka mayoritas, lalu Pak Pengacara itu mau seenaknya minta uang ke negara layaknya anak ke Ibu? Apalagi ini murni kriminal sepasang suami istri yang lupaan. Lupa habis dimana saja uang sebanyak itu. Jan..

Inilah yang sebenarnya membuat Malaysia muntab sekaligus kasihan melihat negeri Indonesia yang kewalik. Malasyia dengan begitu cerdasnya memberi contoh bagaimana kondisi Indonesia saat ini. 

Renungkanlah! Jika memang benar, maka betapa mulianya niat baik Malaysia yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali mereka sendiri. Mereka bahkan tak peduli dengan resiko di cerca oleh seluruh dunia sebagai negara berpenduduk tak ber-otak, di cap sebagai negara berpenduduk yang hatinya telah digadaikan pada Pocong goblog, negara dengan ketololan yang sebenarnya tak boleh mendapat ampunan tuyul. Dan semua itu demi persatuan bangsa Indonesia. Lihatlah! Betapa tulusnya mereka. 

O, Batara Agung.

Yang kedua, ini kemungkinan yang paling memungkinkan. Malasyia sedang dilanda rindu kepada Syaikoji ternyata. Artis tambun itu telah lama tidak muncul di ranah musik. Padahal aura keartisannya bak jabal magnet di Madinah. Dan dia tiba-tiba menghilang seperti tenggelam ke dasar lautan. Tersembunyi dalam sekam di bawah dasar laut. Lenyap. 

Siapa yang tidak panik, coba?

Sementara dari hari ke hari, kerinduan semakin tajam menusuk-nusuk ulu hati rakyat Malasyia. Jika dibiarkan petaka akan melanda negeri bekas jajahan Inggris itu. Akibatnya negara Ringgit berakhir mengenaskan dan hanya terkenang dalam sejarah sebagai negara salah ngeprint. Gara-gara Syaikoji.

Pangkal masalah hidup ini sebenarnya cuma satu; rindu. Ia murni urusan ruh yang tak bisa di ungkap. Siapa kiranya yang sanggup menolak kerinduan batin yang berdebur-debur. Tak heran bila ada yang sampai bunuh diri di kuali. 

Sampai saat ini tidak ada satu orang pun yang bisa menjelaskan rindu lalu menemukan solusinya. Walaupun sampai naik ke lantai tiga, lalu loncat, tidak mengkin bisa menjelaskan misteri rindu. Dan, dalam hal ini, betapa kasihan Malaysia.

Sudah maklum, betapa Malasyia mengidolakan Syaikoji. Sebagaimana batik yang di klaim oleh negeri Jiran, bahkan Joe Fahrizal, satu-satunya rapper Malasyia itu, juga mencontek karya Syaikoji. Itu saja menjadi bukti, bahwa Malaysia ingin sekali mendapat perhatian dari Syaikoji dan tentu saja juga perhatian Indonesia. Itu wajar-wajar saja, sebab perhatian dari idola sebanding pulau ambalat. Karena tidak mungkin kalau hanya sekedar lagu, mereka meniru sampai sebegitu jauhnya. Menyeberang laut nun di Indonesia. 

Dibagian kedua ini, siapakah yang salah tuan-tuan dan nyonya-nyonya?

Ketemulah ide itu. Malaysia beranggapan dengan cara membalik bendera merah putih, Syaikoji bisa timbul dan menciptakan lagu untuk membela negaranya. Karena Malasyia tahu betul betapa cintanya bangsa Indonesia pada benderanya lebih dari pada ke saudara-saudaranya se-tanah air. Pikir mereka, inilah titik paling memungkinkan untuk mengobati kerinduan hip-hop ala Syaikoji. Apalagi orang temprament seperti Syaikoji tak mungkin tinggal diam seraya berpangku tangan.

Pucuk di cinta ulam pun tiba. Harapan Malasyia itu pun sudah bisa tuan-tuan dan nyonya-nyonya lihat di yutub. Silahkan ketik “Lagu terbaru Syaikoji”. 

Saya hanya tidak bisa membayangkan wajah  sangar Syaikoji, kalau lagu di bawah ini juga di bolak-balik oleh mereka. Pfft 😁

“Merah putih berkibar begitu gagah

Cerminan akan bangsa yang kokoh

Ku hormat dengan penuh rasa bangga

Indonesiaku bersatu sepanjang masa”

5 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s