Khalid Basalamah

Kembali. Jagat raya bangsa ini gonjang-ganjing lagi oleh kasus baru dengan berita lebih seru. Kasus tentang ketidakmenerimaan sebagian masyarakat terhadap seorang da’i kembali terjadi lagi, tetapi kali ini dengan kemasan yang lebih heboh. Beliau diturunkan dari panggung.

Khalid Basalamah, bagi pendukungnya adalah alim allamah yang bisa membawa mereka dari jalan gelap nan pekat ke jalan yang terang-menderang. Dan tidak dapat di pungkiri kiranya, bahwa beliau memang seorang yang termasuk di barisan cendekia Islam. Paling tidak cara dan penyampaiannya memang tersampul bagus. Lulusan Universitas Islma Madinah itu memang kentara sekali kelihaiannya mencekok atau mendogma pengikutnya sampai ke tahap sami’na wa atha’na. Mendengar dan melakukan.

Tetapi ada yang perlu dipahami betul oleh da’i yang bersangkutan, bahwa menguasai ilmu saja tidaklah cukup untuk menjadikan seseorang bijaksana kendati kebijaksanaan tidaklah mungkin bisa dimiliki oleh orang bodoh. Terlebih hanya menggeluti Syariat yang memang terkesan kaku. Lebih dari itu, seorang dai juga dituntut untuk menguasai metode dakwah yang tepat sehingga bisa mengena kemasyarakat sasaran. Memahami dan meneliti sejeli mungkin realita masyarakat adalah salah satu kunci kesuksesan pendakwah.

Mengapa walisongo yang hanya sembilan orang bisa menjadi magnet yang begitu kuat sampai ke seantero nusantara. Bahkan sampai hari ini kita masih mengingat betul sebagian ajaran-ajaran dan kisah perjuangan mereka. Nama-nama mereka masih bertengger di otak, pun sair-sair jawa mereka masih terlantun menggema di negeri ini. Semua itu tidaklah terlepas dari kepekaan mereka atas target dan lapangan, dan juga memenuhi syarat untuk menjadi da’i yang tidak hanya pandai ber-syariat. Tentu saja.

Barangkali ada yang bertanya, orang pidato kok diturunkan. Bukankah khilafiyah atau perbedaan harus di sikapi dengan saling menghormati?

Nah, disinilah letak kebijaksanaan dan kecerdasan spritual seseorang akan tampak sekali. Sebenarnya, Khalid Basalamah tidak masalah dimana dan bagaimanapun ia menyampaikan pendapatnya. Negeri ini adalah tempat yang paling menghormati perbedaan. Tetapi ada catatan penting yang harus di garis besar. Bahwa, perbedaan tersebut tidak sampai meresahkan apatah lagi memecah belah masyarakat awam. Akan lebih baik lagi, jika perbedaan itu tidak sampai pada masyarakat awam.

Sudah maklum, jika orang awam mendengar pendapat yang berlainan dari pengetahuannya sejak mereka ngaji di langgar-langgar akan terkejut dan panik. Terlebih tentang aqidah dan ajaran pokok lainnya dalam agama Islam. Lalu timbullah keresahan di dalam masyarakat. Contohnya seperti salah satu isi ceramah Khalid Basalamah yaitu, Orang tua Nabi kafir dan kelak bagian penghuni neraka.

Sementara pengetahuan orang-orang awam, kedua orang tua Nabi Muhammad SAW ada di zaman berkabung. Dalam arti di zaman mereka hidup tidaklah ada seorang utusan yang ajarannya sampai kepada mereka. Atau disebut juga min ahlil fatrah. Mereka berdua selamat dan kelak menjadi penghuni surga sebagaimana keterangan berikut bukti-buktinya yang lengkap dalam salah satu risalahnya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan yang sempat penulis baca hingga tuntas.

Andai saja jika pendapat Ust Wahabi itu disampaikan di forum-forum intelektual bukanlah menjadi soal. Bahkan Imam Nawawi juga berpendapat sebagaimana Khalid Basalamah. Sekali lagi, pendapat seperti ini tidaklah layak disampaikan di khalayak ramai.

Membuat keresahan adalah tindakan yang tak layak diberi ampun. Maka adalah tindakan yang tepat jika Khalid Basalamah segera diturunkan. Bahkan mengusir orang seperti dia adalah berstatus wajib.

Mengingat betapa marak dan mudah saja menjadi da’i, penting sekali mengetahui dan memahami betul betapa sulitnya peka terhadap kemaslahatan ummat. Setidaknya begitulah pesan Hujjatul Islam  Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Ghazali.

10 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s