GMNI 

Di sore hari selepas ibadah asar, saya beranjak dari Pesantren Genteng Laok. Bersama Abd. Qodir dan Nikmat, saya menaiki sepeda motor Super Jhon. Demi mengantar photo ijazah, sepeda motor itu memekik menahan bobot berat kami yang sedang menaiki punggungnya. Sepanjang jalanan yang lurus membentang, motor itu mengarahkan kekuatannya ke titik maksimal. Asap dari knalpot pun menghitam pekat, bukti bahwa motor Yamaha keluaran tahun delapan puluhan itu telah berjuang mati-matian.

Sementara, pengendara di atasnya bernyanyi riang menikmati semenanjung senja. Pemandangan tebu yang manghampar, semakin menambah keindahan gunung-gemunung yang mencagun dari kejauhan, mengitari kebun lebar nan luas.

Abd. Qodir yang bertindak sebagai pemegang kendali setir sepeda motor, telah membelok setang motor butut itu ke arah kanan diperempatan Masjid Baiturrahman Putat Lor. Tidak lama setelah itu, perjuangan penuh duka sepada motor akhirnya terhenti, ketika kami memasuki gerbang kebesaran IAI Al Qolam. Di samping gapura, kami telah di tunggu sekaligus di sambut oleh gerombolan mahasiswa. Ya. Gerombolan.

Saya perhatikan gerombolan itu. Sebagian wajah-wajah mereka saya kenal. Dan tidak salah lagi, mereka adalah pemeluk taat Organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Dan kali ini mereka hendak berdiskusi. Terang saja saya senang sekali atas jamuan sore hari pada waktu itu (02/03/17). Diskusi ini menjadi sajian yang tidak boleh dilewatkan.

“Merdeka!” Pekik pemuda yang bertindak sebagai moderator, pemimpin diskusi. Bergelora, menjamah sisa-sisa malas yang berundak-undak di dada mahasiswa di lingkaran itu. “GMNI hanya milik mereka yang punya tekad. Yang masih memuja hura, jangan pernah menginjak kaki di tanah ini!” Lanjut  pemuda yang bernama Abd. Aziz. Mungkin maksud sang moderator, sekitaran tanah diskusi pada waktu itu. Dengan tangan yang menunjuk tanah di bawahnya. Tentu saja dengan mata mendelik sangar, ia menatap sesorang di garis lingkaran.

“Bung Rudi bakar semangat mereka!”

“Siap. Merdeka!” Seperti orator ulung saja, Bung Rudi berteriak.

“Merdeka!” Teriak lantang suara junior yang melingkar itu tanpa diperintah.

“Marhaenisme adalah salah satu paham yang menolak keras atas penindasan manusia atas manusia, penindasan negara terhadap negara. Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa, Marhaenisme pisau analisnya adalah marxisme, yang di implementasikan oleh Soekarno, harus sesuai dengan natur dan kultur bangsa indonesia. Pancasila sebagai dasar kita bernegara dan berbangsa” Bung Rudi terpejam. Sedikit tenang, sejenak kemudian melanjutkan. “Marhaenisme sebagai alat perjuangan kita melawan kapitalisme imprealisme yang sifatnya menindas kaum Marhaenisme” Begitu katanya berapi-api.

Sebenarnya jancuk sekali Bung Rudi itu. Ia membuat Bergidik bulu roma saya. Dada berdeburan. Seperti di cambuk saja, semangat saya juga terlecut. Ternyata, disaat serius, Bung Rudi tidak seperti yang saya kenal. Alhasil, semangat darah muda mahasiswa-mahasiswa di garis lingkaran itu terbakar. Semangat mereka seperti darah tahun perang, terpompa betul perjuangan mereka. Atau, mungkin saja, wajah-wajah yang tampak di depan saya, seperti wajah mereka yang awal kali mendirikan GMNI. Murni demi cita-cita anak bangsa bangsa. Tahu menempatkan diri disituasi dan kondisi adalah key of sucses. Dan benar saja, Bubg Rudi buktinya. Entahlah.

Diskusika pun berlanjut begitu serunya. Berawal dari moderator yang sok berwibawa, juga senior yang menggila, topik Karlmax semakin sengit. Semua hadirin kompak bersuara memberikan pendapat. Semakin luas. Semakin dalam. Tentu saja, semakin menambah pembendaharaan otak saya tentang Karlmax dan ideologinya yang komunis. Hach.

Lanjut kemudian, diskusi sore itu ternyata tidak hanya bertumpu pada satu sosok Karlmax saja. Mereka tergiring oleh pernyataan moderator agar dari audient memberikan persepsi tentang Pancasila dan hubungannya dengan Marhenes. Saat itulah perang argument berkecamuk. Membadai.

Sialnya, saya ingat tujuan saya semula datang ke Al Qolam. Saya harus photo untuk kepentingan ijazah. Akhirnya, dengan terpaksa sekali saya harus meninggalkan diskusi para cendekia itu. Lalu-lalang saya mencari pinjaman jaz lalu ke tempat pemotretan. Dengan terburu-buru, akhirnya masalah photo sudah kelar. Saya pun segera menghampiri lingkaran itu.

“Ambilkan kayu plaek saja” Tiba-tiba nikmat berkoar, menanggapi komentar salah satu jamaah lingkaran GMNI itu. Pertanda bahwa acara sudah usai.

*kayu plaek adalah kayu yang bertekstur lembut dan kuat. Kayu ini seringkali digunakan untuk memasung kaki seseorang penderita kelainan jiwa.

7 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s