Wah! Saya Raden!

Tepat pada hari Sabtu 28 Januari 2017 ad Daurah al ilmiah al khamisah li majlisi al haramain as syarifaini, di villa Murnajati kembali di gelar. Sebuah acara tahunan yang menjadi wadah bagi siapapun yang ingin menambah ilmu pengetahuan tentang Islam, tentang keramahan agama yang menjadi rahmatan lil alamin.

16406732_1802306056575391_5935830030584504330_n

Dengan uang satu juta, para peserta sudah bisa menyelami dan meneguk sepuas-puasnya di kedalaman lautan ilmu atau membabat alas kebodohan yang bercokol. Sebuah lara yang paling menyakitkan.

Selain ilmu, tentu saja segala fasilitas yang telah disediakan oleh villa dan panitia daurah ke lima.

Alhamdulillah. Sudah dua kali saya mengikuti event tersebut. Tentu saja saya sudah punya pengalaman dalam acara ini. Mulai dari baju yang harus dipersiapkan, seperti baju koko putih, kopyah putih atau gamis putih. Dan tentunya niat yang putih, murni menuntut ilmu karena Allah. Pada waktu seperti ini, spritualitas saya memang harus meningkat.

Karena sudah pengalaman, saya jadi lebih mudah bersosial dengan para peserta yang lain. Layaknya senior-senior yang lain, saya tidak kaku untuk bertegur sapa dengan para peserta di luar kelompok seperti pertamakali dulu.

Tahu kondisi serta situasi apalagi peta medan juga menjadi bagian penting di tempat seperti ini. Misalnya, tahu tempat pengajian berlangsung, musala, kamar mandi, toilet dan tempat mengambil nasi. Tentu saja, jika tidak tahu tempat makan buat apa tahu toilet.

Tidak lucu? Tidak apa-apa karena saat ini saya ingin beceita serius.

Empat orang peserta dari Pondok Loteng yang ikut pengajian, yaitu bindoro Khairon, gus Yusroful, Ahmad Nilam dan gus Fawaid. Penat karena beberapa puluh menit mendekam di dalam mobil, setelah kami menjejakkan kaki di villa Murnajati ada kelegaan luar biasa. View yang eksotik serta gerimis penyambutan langit, benar-benar menghilangkan kecemasan kemarin sebelum berangkat. Apalagi kalau bukan masalah finansial. Terutama saya.

Setelah berjibaku, berkoar, merayu dan merengek layaknya demo, dalam tawar menawar mobil yang akan menjemput kami dengan harga yang paling di inginkan, kami pergi ke tempat panitia. Mengambil kunci kamar, tas kecil berisi kitab dan kartu nama .

Di kartu pengenal sekaligus kartu keanggotaan, nama saya masih seperti dulu, panitia pengajian Syaikh Muhammad bin Ismail bin Usman bin Zain al Makki itu, masih setia menulis nama seperti tahun kemarin. KH. Ahmad Nilam. Sebuah gelar dadakan yang fantastis.

Kendati demikian, Gelar ganjil itu masih saja membuat dada saya berdesir. Akan tetapi saya kira wajar-wajar saja, dengan latar belakang sebagai anak dari seorang petani, bapak saya saja dengan langgar dan santrinya yang bisa dihitung jari tak pernah gelar itu tersemat pada dirinya. Seperti tertarik kekuatan gaib, seketika saja hati kecil saya berdo’a. Semoga saja kelak.

Tapi sebentar saja kebanggaan itu berlangsung. Sebab tak lama berselang, setelah semua selesai tanda tangan di lembaran kertas polio berukuran F4, ketua rombongan mengambil pena sambil memberi tahu ke panitia di depannya. Dia mengubah gelar dirinya dan orang-orang yang di bawah komandonya. Termasuk gelar saya.

Tangannya bergerak menulis Ra. Kikuk tak hanya menyergap saya, gus-gus di belakang sama-sama keheranan. Bayangkan, gelar segawat itu di rubah. Dan gelar apa Ra itu?. Menjengkelkan!.

Perlahan-lahan saya bertanya seramah mungkin, tentang kepanjangan Ra itu, sebab bindoro dari Komis -sebuah daerah para wali di pulau Madura- ini sedikit temprament. Dan ternyata gelar Ra itu adalah kepanjangan Raden. Terang saja, dada saya tersirap. Berkat ketua rombongan, kami semua yang dari pondok loteng sudah menjadi raden, sebuah gelar bagi keturunan bangsawan. Wah, saya raden!.

“Mun kiaeh, berrek kelluh” kata sang pencetak raden dengan logat Madura.

Lanjut kemudian, layaknya jamaah haji baru datang, kami diantar ke kamar masing-masing. Kecuali Ra Fawaid, saya satu lorong dengan yang lain. Kasur empuk pun menyambut, saya hempaskan saja penat yang masih tersisa. Nikmatnya jadi raden.

Sejenak saya terdiam di kamar yang masih di masuki oleh saya saja. Sebab, di pintu kamar tertulis nama saya dan nama peserta lain yang menempel, belum datang. Tidak dengan Ra Khairon halim dan Ra Yusroful Khalili mereka berdua satu kamar. Lebih sial lagi Ra Fawaid Azman, dia di komplek lain-Kadiri.

Sementara hanya dia saja yang baru ikut pertama kali. Jika salah perhitungan, bakal berdampak buruk.
***

Tak perlu heran, jika setelah shalat Maghrib saya dan para raden yang lain makan dengan begitu nikmat, tempat mewah dan tak perlu payah, kami bertiga hanya tinggal menyinduk nasi yang berjibun-jibun serta menu lauk pauk yang bervariasi pula. Begitulah, kali ini kami benar-benar jadi raden. Setidaknya dalam tempo empat hari.

Beda dengan baru pertama kali datang, ruang makan berubah. Sewaktu saya di komplek Kadiri, selain dekat, cukup lurus dari kamar mandi sudah sampai ke tempat. Namun bila dari komplek Gajah Mada, harus menuruni tangga, lalu lurus kedepan melewati ruang pegawai dan berbelok ke kiri melewati lantai marmer putih. Baru kemudian terlihat penampung kebutuhan perut itu. Dan, amuk badai pun berlangsung.

Seperti yang sudah saya katakan, paham peta, dimanapun seseorang berada sangatlah penting. Jika tidak, siapapun akan mengalami kesulitan. Bahkan terkadang yang menurut dirinya benar, justru memasuki dan terperosok ke jalan yang salah. Sudah kaprah, jika sudah dianggap benar, kebanyakan manusia akan tuli pada nasehat. Itulah tabiat anak cucu Adam.

Misalnya, politikus Indonesia. Dengan peta politik yang carut marut diperparah oleh dangkalnya kepekaan. Mereka semakin kalang kabut dalam ketersesatan. Tabiat kebinatangan pun mulai tak terkendali, bahkan jika demi kepentingan-kepentingan politiknya, semua akan digadaikan. Bahkan agama sudara. Apalagi cuma negara.

Saat menulis narasi ini, saya sedang berada di depan tv, kebetulan sekali ada berita seorang politisi sambil berdada dengan kasus korupsi. “Sudah tidak tahu politik, buta peta amanah rakyat pula” begitulah kata Ahmad Rudi Ibnu Sudi

Terus terang saja, saya tidak ingin sekali memasukkan prahara politik dalam narasi. Tetapi saya tidak menemukan analogi yang pas. Coba, contoh apalagi yang lebih cocok untuk menggambarkan atau mencontohkan orang yang tidak tahu peta keadaan, jika bukan para politikus?.

Saya kira tidak ada yang lebih menyedihkan dari kebutaan mereka terhadap peta (politik) yang alurnya demi kepentingan rakyat.

“Ra Nilam, tempat makannya dimana?” Dengan wajah pucat, Ra Fawaid bertanya tempat makan, pada pukul 22:60, setelah sambutan pertama Syaikh Muhammad Zain al Makki. Padahal ia terakhir kali sarapan tadi pagi sebelum berangkat.

Begitulah, tidak mengerti sebuah peta akan berdampak buruk. Bahkan raden sekalipun. []

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s