Ibu

Dulu sekali dan sampai hari ini, masih terasa betapa bahagianya saat ibu mengajak saya ke pasar demi menyambut hari lebaran. Belanja dan beli baju baru. Pasar yang jaraknya sangat jauh. Berkilo-kilo meter jarak dari rumah, pasar itu perlu di tempuh lima jam. Jika diukur dari Malang, jarak tempuh itu lebih dari cukup untuk sampai ke Surabaya dan ke Madura. Begitu lama dan melelahkan. Karena selain jarak tempuh yang begitu panjang, juga rute dan kendaraan yang tidak memadai pada waktu itu. Tentu saja jarang sekali anak-anak seumuran saya bisa memakan es krim di pasar Kapuas. 

Seminggu sebelumnya ibu bilang, dan sejak saat itu pula saya memperhatikan jam dan mengejar hari. Ketika besok hendak berangkat, sorenya saya begitu riang. Lalu cerita keteman-teman sepantaran, perihal keberangkatan saya ke pasar Kapuas.

Malamnya lebih dahsyat lagi. Saya tidak tidur sampai Subuh. Ah, panorama sepanjang aliran Sungai Kapuas yang meliuk-liuk, sudah membentang berombak dalam imajinasi. Selanjutnya ketika pagi hari, saya dan ibu menaiki motor Air. Kala itu motor air bermesin diesel dengan knot kecepatan 15 silinder itu bernama “Selamat Pagi”. Bunyi mesin itu menderu-deru, memancing kantuk yang sebenarnya sudah sejak dari tadi tak tertahan. Dan akhirnya, tahu-tahu saya nyenyak berkalang mimpi dan terbangun tepat di depan dermaga Kapuas. Sambil mengucek-ngucek mata yang baru bangun dari pangkuan ibu, motor air itu hendak di tambat.

Panorama yang saya nanti-nanti itu hilang. Meskipun pulangnya nanti saya masih punya kesempatan, tetapi pemadangan itu tidak seindah di pagi hari. Saya kira kebahagiaan itu sejatinya membawa petaka.

Ketika itu, saya hanya tahu tentang kebahagiaan. Saat ini, saya lebih peduli tentang maha kuatnya ibu menopang kepala saya dan tentang kerinduan saya yang…

Aih. Ibu itu memang teman maha menyenangkan. Ibu juga tempat berebah diri yang maha empuk. Ibu juga jimat maha ampuh. Tak akan dan tak mungkin terganti kebahagiaan semasa itu meskipun saat ini saya ke pasar ribuan kali.

Betapa butuhnya saya kepada ibu waktu itu untuk sekedar ke Pasar. Bahkan saat ini, ketika saya hendak mencintai dan ingin menikahi perempuan seperti dirinya. Tetapi, engkau wahai ibu, adalah harga nyawa saya.

2 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s