Chat 2

Malam ini, fantastis sekali. Saya seperti orang yang tengah memasuki alam malakut, tak sadarkan diri dengan segala maha cipta keindahan Tuhan. Maqom fana bilkulliyat, tak kenal diri, tak tahu siapa dan dimana, adalah diriku waktu itu (19/02/17).

Syaikh Syarafuddin Yahya Al imrithi menjelaskan dalam mukaddimahnya, bahwa mereka yang telah menuai buah suluk yang maha berat akan mengalami kenikmatan luar biasa ketika wushul dan hanya berdua dengan Al haq. Serupa dengan mereka yang bergelimang hura digegap pesta dengan alunan musik serta tuak yang memenuhi bibir cawan-cawan kedai yang berjibun dengan pelacur-pelacur telanjang.

Kenikmatan maha puncak, telah menimang mereka untuk sekedar peduli pada dunia yang fana.

Gadis berkaca mata, perempuan berprofesi guru, pemudi santun dari negeri utara. Dialah penyebab semua ini. Jika saja saya jantungan karena kegirangan, misalnya, tentu dia yang harus di intograsi dan di sidik oleh kepolisian. Menjadi terpidana dan terdakwa atas kasus “Chat maut”. Kalau benar begitu, misalnya, jelas kasus ini pasti viral di media-media nasional. Luar biasa

Bagaimana tidak, setelah sebelumnya, pesan-pesan saya hanya di acuhkan saja dengan begitu tragisnya, pada waktu itu berbalik seratus delapan puluh derajat. Ia begitu trengginas membalas semua obrolan chat yang saya kirim. Centang biru pun hanya beberapa detik, sudah tidak selama kemarin. Mengetik segera timbul di samping foto profilnya. Dan, balasan dengan notifikasi yang sudah maklum, berdering masuk atas nama Adik.

Nama panggilan perempuan itu sebenarnya pendek, tapi sengaja saya beri nama kontaknya itu dengan “Adik”. Maaf untuk sementara ini, saya masih belum bisa menjelaskan kenapa saya panggil perempuan itu adik. Ah, begitulah rasa cinta, susah diulas oleh tulisan.

Saya kegirangan sampai lupa jam. Sejak Isya berkumandang, tiba-tiba saja saya lihat jarum pendek berwarna hitam jam dinding sudah begitu lurus ke angka sembilan. Sesekali saya gerak-gerakkan jari jemari saya karena capek.

Duh gusti! Ternyata dia tidak hanya memberi ruang rindu saya yang sudah bergegap-gegap hanya dengan chat. Dia mau di telpon. Ampun.

Ada apa ini? Mimpi apa saya semalam? Apakah ini maunah? Tuhan kau baik sekali.

Akhirnya malam itu saya menghabiskan seluruh waktu saya demi mengobrol dengan si buah hati belahan jantung. Tentu saja, sang kekasih paripurna (Amin) itu bercerita tentang keluarganya, tentang adiknya yang bernama Hafil, juga tentang kepribadian ayah dan ibu –Tidak boleh ada imbuhan “nya”–.

“Ya kalau saya cuma menunggu keputusan Ayah” Katanya saat menjawab pertanyaan saya yang paling serius. Allahu Akbar. []

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s