Satam

Pada mulanya aku sama seperti Satam, penikmat ilmu kanuragan dan pengagum dunia gaib. Dunia magis, dunia supranatural, dunia astral, dunia yang tidak bisa dinalar oleh otak manusia pada umumnya. Kami begitu terkesima oleh mantra-mantra yang memiliki kekuatan. Seperti Karomah para wali atau seperti mukjizat nabi-nabi. Setidaknya begitulah keinginan kami. Sakti. 

Umar

Bayangkan saja, ketika kami mengaum seperti singa lapar dan semua serangan yang datang dapat kami patahkan, dengan hanya satu hentakan tangan ke depan. Musuh terpental begitu jauh, lalu menyeringai oleh nyeri yang merasuk ke sendi-sendi tulang.

Itulah yang terjadi ketika aku dan Satam, untuk pertama kalinya, diserang oleh sekelompok begal waktu tengah malam, saat mengantar salah satu santri ke rumah sakit. Begal yang berjumlah lima orang itu lari tunggang langgang oleh auman macan putih yang keluar dari mulut satam.

Sialnya, aku harus berhenti dari laku amalan itu, ketika saudaraku tahu dan langsung melarang.

“Sebaiknya, giatlah dulu belajar baca kitab dan perbanyak membaca Al-quran dan Shalawat. Kau akan melebihi sakti,” begitulah kata anak tertua ibuku. Dan aku harus ikut semua perintahnya. Jika tidak, kakak yang tempramental itu akan terus memburuku dengan bentangan lima jari ke muka. Sebaiknya kuikuti saja, dan terus bergerak pada isi perintah kakak.

Sementara, Satam makin bertambah sakti, jurus-jurus yang dulunya pernah kami tekuni bersama tiap malam, sudah layak jika kelak aku belajar lagi kepadanya. Bertahun-tahun, selama di Pondok Pesantren dia selalu mendatangi kiai-kiai sepuh yang terkenal linuwih, untuk memperdalam ilmunya.

Pesantren kami, Genteng Laok, sering sekali mendapat serangan kasat mata dari luar ataupun oleh kenakalan jin yang menghuni area pondok. Banyak santri baik putra maupun putri yang tiba-tiba kerasukan, belum lagi serangan angin malam yang ingin membuat petaka. Dan semua itu, hanya Satam yang bisa menangani atau memberikan serangan balik. Hasilnya, balasan itu seringkali membuat musuh-musuh jera. Seperti ceritanya yang sering diulang-ulang di telingaku.

Bagi Satam, menghadapi santet dan semacamnya sudah seperti sarapan. Baik yang ditujukan pada dirinya atau pada pondok. Katanya, hanya dia yang memiliki aji bolosewu, kanuragan tingkat tinggi, yang tidak sembarang orang bisa memiliki. Sebab lelakunya sangat berat, harus puasa mutih selama 40 hari, membaca dzikir amalan yang bilangannya ribuan, dan membacanyapun harus di bawah langit langsung, -tidak boleh ada penghalang antara si pembaca amalan dengan langit- dan dipungkasi dengan puasa patigeni.

Namun, akhir-akhir ini kulihat dari kejauhan Satam sering menangis di pojokan Mushalla pesantren. Ia seperti meratap, menyesali sebuah perbuatan, dan apa itu, aku tidak tahu. Hingga pada suatu malam dia mendatangiku lalu mengajakku ngobrol di bawah pohon Kelengkeng, pohon yang punya cerita sebagai pasarnya Jin. Lengkap dengan kopi dan rokok, langsung saja ajakan itu kuiyakan.

“Sudai, Aku sudah lelah dengan semua ini. Sudah waktunya aku menghidar dari peredaran.” Wajah satam nampak datar. Matanya sayup-sayup menerawang ke depan. Tangan kanannya tak pernah berhenti memutar tasbih hitam.

Kuhisap rokok di tangan kananku.

“Apa maksudmu Satam? Apa kau mau uzlah?”

“Seperti itulah, coba kamu lihat betapa angkuhnya diriku. Hatiku tertawa riang manakala aku melihat musuhku kejang-kejang akibat panas teluh yang dikirimkan kepada pondok kukembalikan lagi kepada dirinya, Astagfirullah, astagfirullah…” mulut Satam komat-kamit membaca istgifar. Tampak jelas ada penyesalan dimatanya yang sendu itu.

“Bukankah sebagai panglima Pondok memang kewajibanmu untuk melakukan itu. Bayangkan saja kalau kamu tidak menangkal sihirnya, tentu akan banyak korban berjatuhan di pondok kita ini” ucapku, meyakinkannya, bahwa apa yang dia perbuat bukanlah hal yang salah.

“Aku menggunakan ajian rogo sukmo untuk bertarung melawannya. Sukmaku pergi menuju tempat di mana orang itu sedang melancarkan sihirnya. Di sana kami bertarung mati-matian.” Satam mengambil rokok lalu menyulutnya. Dia menatapku lekat-lekat.

 “Sudai, sebenarnya aku tidak mau melawannya, aku hanya ingin dia menghentikan sihir yang ia kirim ke pondok, tapi dia  malah marah, dan menyerangku. Serangannya yang yang membabi-buta membuatku terdesak dan hampir kewalahan. Aku tidak punya pilihan lagi, selain membalas serangannya dengan bolo sewu. Seperti ribuan anak panah yang menghujaninya, orang itu tidak kuasa menangkis serangan pamungkasku itu. Selanjutnya, melalui sukmaku, kulihat fisik orang itu kelojotan lalu mengejang seperti meregang nyawa. Entah mati atau tidak, aku segera kembali masuk pada sukmaku” lalu Satam menunjukkan kerah bajunya padaku. Dalam samar-samar lampu pondok, kulihat ada sisa-sisa bercak darah, yang tidak berhasil dibilas cucian. Menurut pengakuan Satam, dalam pertarungannya itu ia sampai muntah darah.

“Kepalaku Pusing, dadaku nyeri, perutku mual dan ada rasa asin dimulutku, saat aku membuka mata darah sudah membasahi baju bagian depanku ini. Tapi aku sangat puas bisa mengalahkan orang itu, sudai.”

 “Bukankah itu bagus, Satam. Kamu bisa menang. Lalu apa yang membuatmu gelisah?” Aku mengambil gelas tanggung dihadapan Satam. Kopi pahit melumer dilidahku  yang mulai terasa asam oleh nikotin.

“Justru itu, sudai” Gelas kopi kini sudah berpindah digenggaman tangan Satam. Ia menyeruputnya. Satu gelas untuk dua orang, atau lebih. Di pondok, kami menyebutnya join.

“Aku menang, dan hatiku puas telah berhasil mengalahkan penyihir itu. Rasa puas akan kemenangan itulah yang membuatku gelisah, sudai. Setelah merenung, aku mulai sadar ternyata ada yang bergemuruh dalam diriku. Aku mulai riya, aku mulai merasa lebih tinggi dari orang lain, dan aku mulai berani meremehkan dan menganggap rendah makhluknya gusti allah yang lain. Astagfirullah…astagfirullah…” kembali lantunan istigfar mengalir dari mulut Satam.

“Kamu ingat dengan ceritanya Sayyida Ali dalam sebuah peperangan. Ketika ujung pedangnya sudah hampir mencabut nyawa musuhnya, tiba-tiba si kafir itu meludahi muka Sayyida Ali. Dengan seketika Sayyida Ali meninggalkan musuhnya itu. Ketika ditanya, kenapa beliau tidak membunuhnya? Sayyida Ali menjawab, sebelumnya saya lillahi taala dalam membunuh musuh-musuhku, namun setelah dia meludahi mukaku, seketika saya jadi marah, dan  seketika itu pula saya sadar, kalau saya membunuhnya atas dasar kemarahan maka nilai ikhlas dalam hati saya sudah hilang” aku mengangguk-ngangguk sambil menggaruk ketiakku yang gatal digigit semut dari pohon kelengkeng.

“Kanuragan ini harus segera kuwariskan. Untuk benteng pertahanan pondok. Dan selanjutnya aku bisa dengan tenang bermesraan denganNya,” Satam menghela napas panjang, ia lalu melanjutkan, “Ini serius, Sudai. Aku sering bermimpi didatangi lelaki tua dengan wajah berseri. Berjubah putih. Ia selalu berkata, tinggalkanlah! Naiklah!”

Telingaku sering mendengar cerita mimpi-mipinya. Dan ini entah yang ke berapa. Tapi sejujurnya, aku cukup bosan dengan cerita bunga tidurnya itu. Dulu, aku pernah bilang, jangan terlalu menganggap serius perihal mimpi atau kalau mimpi itu sangat diyakini kebenarannya atau jika itu mimpi baik jangan diceritakan pada orang lain, kecuali pada orang yang sangat dipercaya.

“Siapapun itu yang akan menjadi penggantimu, maka dia butuh berpuluh-puluh tahun untuk bisa menguasai ilmu kanuragan yang kau miliki, Yai.”

Satam tersenyum menanggapi bicaraku yang mungkin seolah sok tahu baginya. Atau bisa saja karena panggilan “Yai” itu. Nama aslinya Satamuddin. Tapi di belakang hari, namanya ini banyak embel-embel yang melekat. Mulai dari “Syaikh”, “Yai”, “Habib”, “dukun”, “orang pintar”, “paranormal” dan yang terkhir “minha”. Entah, dilihat dari sudut pandang apa dan siapa yang memulai. Aku sendiri tidak tahu.

“Tidak perlu, Sudai, cukup semalam saja,” Sorot mata Satam berkilat-kilat penuh keyakinan.

Lalu muncul bayangan dibenakku, seperti Sinto Gendeng yang mentransfer ilmunya ke pendekar 212. Sinar biru yang menembus jiwa terdalam Wiro Sableng, dengan tangan yang menempel di dada. Jari yang menunjuk ke atas. Tubuh yang bergetar hebat karena mendapat kekuatan besar yang mendadak.

“Saya merasa kesulitan untuk mencari pengganti, karena ilmu seperti ini tidak diminati lagi. Banyak yang menjadi malu untuk memiliki ilmu seperti ini, karena takut dianggap dukun. Padahal gunanya ilmu ini bukan itu saja. Ilmu ini bisa digunakan untuk siapa saja tanpa harus ketinggalan dari pergaulan masa kini. Sudai, ilmu ini jangan sampai hilang!” Satam menatapku lekat-lekat. Sorot matanya seperti menuduhku orang yang malu itu.

Bagaimanapun itu, alasan pendekar Pesantren Genteng Laok itu sangat benar adanya. Santri dulu dengan santri yang telah sampai pada zamanku saat ini, sudah tidak tertarik lagi pada ilmu kanuragan. Mereka sudah enggan berpuasa mutih, berzikir malam hari, duduk berjam-jam hingga sampai pada angka yang sudah ditentukan oleh sang kiai. Tidak tidur sepanjang hari dan malam atau puasa patigeni sudah jarang sekali kudengar ada yang melakukan.

Banyak dari mereka yang menjadi malas dan tidak lagi percaya pada sabuk segoro geni atau Rompi Jaelani yang beirisi kekuatan. Padahal, dulu sangat terkenal sekali sebagai tameng tubuh dari segala marabahaya luar dalam.

Dan sekarang, satu-satunya pendekar milik Pondok Pesantren itu ingin berhenti oleh panggilan hatinya. Dari cerita-ceritanya, aku mulai paham apa yang ia risaukan. Karena selama ini, ia terlalu bangga dengan kekuatannya. Dan melupakan tujuan sebenarnya dari zikir, yaitu sampai pada puncak wishal.

“Lalu siapa yang akan kau pilih, Satam? Apa Kurdi saja. Sepertinya dia tertarik dengan ilmu kanuragan, kemarin aku pergoki dia sedang mengamalkan  Hizib Bahar.”

“Kita tunggu saja. Pada seperempat malam ini, kau akan tahu.” Aku penasaran. Siapa kiranya yang akan meniru laku Sinto Gendeng dan muridnya itu. Aku mulai serius. Ini akan menjadi malam yang sangat dahsyat.

Sepenuhnya saya sadar, sinar biru dalam film Pendekar Kapak Naga Geni itu tidaklah nyata. Aku mulai menebak-nebak, siapa  orang terpilih yang bakal menerima warisan ilmu bolo sewu itu. aku benar-benar ingin melihat adegan itu dengan mata telanjang

Tiba-tiba hatiku berdesir. Aku mulai menduga-duga. Aku mengambil gelas kopi yang sudah dingin. Sebelum aku menandaskan isinya, Samar-samar wajahku tercetak di sana.

“Mungkinkah aku orangnya” ucapku dalam hati.

“Ya, pasti akulah yang akan dipilih Satam. Tidak salah lagi” aku kembali menyulut rokok yang entah sudah batang keberapa. Bunga-bunga kebahagiaan mulai bermekaran dalam jiwaku.

“Sudai, bersiap-siaplah…” ucap Satam sambil memejamkan mata. Mulutnya mulai komat-kamit. Segera hawa aneh mulai terasa. Seperti ada angin dingin yang menusuk tengkukku, lalu berganti udara hangat yang seperti memijat ubun-ubunku.

Aku mencoba tetap tenang. Kusedot dalam-dalam rokokku. Kepulan asap yang keluar dari mulutku menari-nari, seperti selebrasi pemain bola yang sukses mencetak gol. Betapa senang hatiku, seperti ketiban durian runtuh. Bolo Sewu yang diidam-idamkan banyak santri, akhirnya bisa menjadi milikku tanpa harus bersusah payah puasa mutih puluhan hari, tanpa harus menjalani tirakat yang ribet dan amat berat.

Lalu berkelindan imajinasiku, tentang diriku yang digdaya, yang akan menjadi garda terdepan Pondok Pesantren dalam menghalau para Dholimin yang ingin berbuat jahat. Dan julukan aneh “paranormal”, “dukun”, “minha” dan lain-lain, tentu tidak akan aku hiraukan karena tidak sebanding dengan ucapan terimakasih, sanjungan dan pujian yang akan diucapkan kiai padaku, seperti yang selalu beliau lakukan terhadap Satam selama ini. Kemudian kakakku yang galak itu, pasti langsung mencair kemarahannya setelah tahu adiknya ternyata memiliki Bolo Sewu. Aku tersenyum sendiri membayangkan semua itu.

Lamat-lamat terdengar suara langkah kaki mendekat pada kami, membuyarkan lamunanku. Hawa aneh mulai merayap disekujur tubuhku. Satam masih khusu dengan dzikirnya. Rokokku telah tewas, dan sosok itu mulai mendekat, tanpa bicara ia duduk bersila tepat dihadapan Satam.

“Bukankah dia Umar?” aku bergumam heran dalam hati. Ada semacam ketidakpercayaan dengan hadirnya Umar ditengah-tengah kami. Dia adalah teman seangkatanku mondok. Awalnya dia teman sekelasku sekolah Madrasah Diniyah, karena saking tidak cakapnya dia dalam semua pelajaran, kemudian dia tidak naik kelas, jauh di bawahku. Hingga kemudian, setelah aku lulus pendidikan diniyah, aku diangkat sebagai dewan pengajar dan si Umar menjadi muridku di diniyah.

Lalu, tiba-tiba ada sinar terang menerpa mataku, seperti flash camera dalam ukuran besar. Kemudian semuanya tiba-tiba menjadi hening dan gelap.

Aku mengucek mataku, mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Namun gagal. Aku melihat Satam dan Umar sedang ngobrol. Nampak kepulan asap menguap dari rokok dijari-jari tangan mereka.

“Kamu sudah sadar, sudai?” Tanya Satam, sambil tersenyum.

Aku hanya melongo mendapat pertanyaan dari Satam.

“Terima kasih Sudai, kawan sekaligus guruku, kamu sudah menjadi saksi atas ijazah bolo sewu, malam ini” ucap Umar dengan mimik wajah yang sumringah.

“Dan tolong jangan bocorkan hal ini kepada siapapun. Bawa rahasia malam ini, sampai kematian menjemputmu” Kata satam, sambil menghunuskan senyum tepat dijantungku.

Aku menatap gelas kopi yang kini hanya tersisa ampasnya.

6 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s