Nyamuk

Sore makin terasa. Menandakan bahwa gelap sebentar lagi akan menyapa. Rumah kontrakan yang sebentar lagi akan diselamati itu, cat putihnya memerah oleh sentrongan  mega yang semakin menurun.

Jalan beraspal yang membentang di depan halaman, penuh dan bergemuruh dengan kendaraan yang sudah selesai dari pekerjaan pengendaranya. Bising deru truk, mobil dan motor menyatu dengan dengingan nyamuk yang terus memburu darah. Mencari-cari kesempatan menusuk.  

“Harus kulawan” pekikku menahan amarah yang sejak tadi kutahan.

Entah sudah berapa kali tanganku menyibak segerombalan vampir kecil sialan itu. Bukannya lari, nyamuk yang lebih dulu menghuni rumah kontrakan malah semakin gencar bergerilya. Bahkan, tepuk tanganku untuk membunuh, semakin membuat penyerangan mereka trengginas.  Seperti pemain bola dan aku suporternya, mereka semakin semangat. Gila!

Salah satu gerombolan serangga berdarah itu hinggap dikaca. Kudekati pelan-pelan, ku jinjing kakiku, dan tangan yang sudah siap melumat, kubuka lebar-lebar. Tanpa berkedip, kupukul kaca. 

Dan, Sial! ia melihat, lalu terbang tinggi sebelum tanganku nmenyentuhnya, sambil mengejek ia terbang zigzag didepan muka, kekepala, dan keubun-ubun sambil berbunyi, menambah volume emosi. Hampir saja kaca jendela depan rumah pecah karena keinginan membuncah untuk meremas bokong nyamuk bangsat itu. 

Mataku semakin awas, memperhatikan setiap gerak-gerik gerombolan nyamuk bertubuh kurus dan panjang yang berkeliaran. Sepertinya, mereka menyusun strategi penyerangan diatas dan samping kepala. Kusiapkan tangan untuk serangan yang tak terduga. Telingaku semakin kupertajam untuk mendengarkan bunyi teriak serbuan mereka. Insting membunuhku semakin liar. Terang saja.

Plak. Bunyi tepukan tangan yang berpadu dengan amarah, membahana kesuluruh ruangan kosong. Akhirnya, jurus tepukan mengenai nyamuk yang sudah melukaiku. Darah muncrat mengenai pipi. Dan nyamuk-nyamuk yang lain berhamburan menyelamatkan diri karena mendengar suara pukulan yang maha dahsyat.

“Bangsat! Kamu kira aku mau memberimu sedekah?” Bentakku pada nyamuk yang tergeletak bersimbah darah ditanganku. Mengenaskan!

Aku pikir, mereka meratapi kematian saudaranya untuk beberapa saat, sukur-sukur jika mereka taubat dari pekerjaan mencuri darah untuk setesrunya, dan tak akan kembali lagi. Atau, mereka berlari kepojokan ruangan, lalu mereka akan berpuasa berhari-hari karena trauma atas kematian saudaranya yang tragis.

Tetapi ternyata tidak, mereka seperti politikus bangsa ini yang tidak pernah kapok atau bertaubat. Mereka kembali lagi dengan pasukan yang lebih banyak. Lebih berani lagi mendekatiku. Dari caranya mereka terbang, terlihat jelas mereka menemukan cara serbuan yang lebih jitu.

“Kesini brengsek. Ayo gigit aku” Kukatakan dengan tenang dari kasur tempatku berbaring tanpa emosi seperti sebelumnya.

Kutahan amarah, perlawanan mereka yang sengit butuh peta perang yang jitu pula. Kubuka baju, barang kali dengan cara ini mereka akan tergoda oleh bau anyir darah tubuhku. Selanjutnya, mereka sangat bernafsu dan melupakan strategi penyerangan yang telah diperintahkan oleh komandan mereka.

Kubuang belas asihku. kubayangkan penyebar malaria itu adalah perampok bangsaku yang menipu rakyat dengan dasi dan santun kemunafikan. Untuk menambah buas serangan, kuhargai setitik darahku seharga pulau-pulau. Kubayangkan tubuhku adalah rakyat jelata yang akan akan disiksa oleh ketamakan mereka.

Ah, kurasa hari ini aku pahlawan yang begitu berani. Tapi musuhku cuma nyamuk. Andai saja mereka adalah musuh-musuh negara ini. Namun sayang, musuh negara ini malah dilindungi oleh hukum negara itu sendiri. Sepertinya, keinginan orang-orang sepertiku untuk memerangi musuh bangsa ini, cukup dilakukan pada nyamuk. 

Dan betul, mereka mengelilingi tubuhku. Tak ayal, mayat nyamuk bergelimpangan di lantai oleh serangan dan jurus mematikan yang bertubi-tubi.

Tinggal satu nyamuk lagi, otakku mendidih. Sebab orang nomer satu di negeri ini yang kulihat pada diri nyamuk terakhir itu. Kebencian maha puncak. Padahal salahnya Cuma satu, jadi president. Dan, Plak.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s