Senja

Bahwa memang begitulah dunia. Tak pernah sejalan dengan ketentuan dan aturan yang apabila di langgar sangat beresiko. Pengemban khalifah di bumi terlalu sibuk berembuk diri demi diri, sejak akal dan nafsu di adu. Barang siapa yang menguasai salah satunya, ia berjalan sesuai suratan takdir. Terang secarik firman.

Di ujung barat, tampak awan berjalan berkelompok-kelompok tertuntun angin. Matahari sudah agak menurun. Sinarnya timbul-tenggelam diatara kelebetan awan yang berundak-undak. Senja memang tak pernah menetap pada satu suasana. Kemarin cerah di langit biru telanjang, kemarin lagi mendung. Sekarang pun menampakkan perubahan dengan cahaya pucat karena terhalang gumpalan awan. Awan terus berjalan ke utara. Terlihat pelan. Sesekali ia membentuk wajah. Kadang kuda bersayap, kupu-kupu terbang, lalu buyar. 

Sinar senja melewati lorong di gumpalan awan. Celah itu memberi kesempatan cahaya untuk menyapa bumi. Menembus pelataran atap gubuk kecil dan menjamah pemuda di depannya. Kepala dan tengkuk. Baju koko serta sarung sekalian kitab ditangannya yang berisi firman.

Sedari dulu, tahan sekali pemuda itu membiarkan senja berbisik masa lalu. Senja terus menyusupi relung-relung kenangan terdalam jiwa pemuda itu. Menjerang rindu. Menghampar asa. Bertahun-tahun dalam penantian, pemuda itu ibarat orang mengenang wajah yang belum pernah terlihat.

Tubuh kurus dan jangkung itu tampak di paksa tegap. Sarung setinggi betis tertiup angin. Tepat satu kilan di bawah lutut, sarung itu melambai-melambai. Wajahnya menghadap ke arah timur. Di tangan kanan kitab dan buku tergenggam. Wajahnya terlihat tenang. Penantian panjang membuatnya  terbiasa dengan bosan. Tetanaman sawah di depan dirinya, entah sudah ke berapa kali tertatap dengan sorotan kosong.

Tetapi tidak di detik ini. Ia tampak mulai bosan. Ia merasakan bahwa penantiannya  tak kunjung berkesudahan. Sudah begitu lama sendu-sedan yang ia tahan. Sabar pun berjarak. Dan pemuda itu sudah sampai di ujung.

Senja tidak sadar, bahwa penyiksaan yang terlalu lama, sejatinya mengumpulkan kekuatan, memperkuat tekad lalu membaja.

Tubuh pemuda itu bergerak. Mencium mushaf di tangan saat hendak berbalik badan. Sorban yang berjuntai ke bawah tepat di bahu kanan, ia betulkan.

“Tidak ada cara lain untuk melupakan, kecuali dengan mengingatnya. Seperti air dalam telinga, ia akan keluar jika kemasukan air pula” Katanya.

Ia beranjak dari tepi jalan dengan langkah pasti. pemuda itu hendak memasuki gubuk yang ia sewa sebulan lalu. Bayangan senja telah menjadikan dirinya sudah sepanjang dua atau empat kali dirinya. Senja itu sudah gelap-gelap terang membias putih. Lengkingan audio Tarhim pengantar adzan Maghrib telah terdengar dari masjid yang berada di sebelah utara gubuk. Tepat berada di samping jalan dan perempatan menuju desa Ganjaran.

Matanya berkaca-kaca. Pelan-pelan menjadi sembab. Dan, siapa kiranya yang bisa menahan bandang air mata jika kisah sudah begitu rupa? Tanggul kokoh dalam jiwa lelakinya, jebol berderai. Air mata tumpah ruah. Membahasakan perasaan tak terlisankan. 13 tahun penantian, hanya bisa di dengar dari cerita legenda. Cuma pangeran dalam dongeng yang bisa bertahan sedemikian lama. Bukan saya. Ucapnya lirih.

***

“Ayah, Jaka pamit dulu, Ma”

“Hati-hati Jaka, jangan sungkan kalau butuh apa-apa. Bilang sama Mama ya nak”

“Mobilnya di bawa Jaka” Perintah Ayah.

“Tidak Yah. Terimakasih. Jaka tidak mau kemana-mana. Motor saja sudah cukup.”

“Nak, besok Mama akan pergi ke Ndalem Yai Khol. Mama akan membujuk lagi”

“Jangan macam-macam Ma. Malu. Sudah cukup. Jangan mengemis lagi”

“Tapi ini demi anak kita Yah”

“Nanti Jaka juga bakal ketemu jodohnya sendiri”

“Sudah Yah, Ma. Jaka berangkat dulu”

“Assalamualaikum”

Jaka Bermana menghidupkan motor bebek Meo. Setelah melewati gerbang rumah, Ia meluncur dengan kecepatan tinggi membalap angin. Seratus meter jarak dari rumahnya telah terjangkaui, dan ketika itu matanya menetes dengan begitu derasnya. Pikirannya tertuju pada sosok santun nan asih. Sosok yang begitu ia cinta segenap raga dan jiwa. Dialah Fathimah, putri kiai Khol yang baru seminggu lalu dijodohkan dengan gus Fuad dari Tebu Ireng. 

Fathimah, bagaimana pun usahanya untuk melupakan putri gurunya sendiri itu tidaklah mudah. Ia telah mengakar kuat di relung terdalam. Setiap saat nama itu selalu menjerang rindu. Hatinya telah terjaring terikat cinta. Apatah lagi, ia adalah cinta pertamanya. Selama sepuluh tahun menjalin asmara tentu bukan hal yang mudah untuk acuh akan teriak rindu dan cemburu pada gus Fuad. 

Setengah jam perjalanan dari rumah, Jaka sudah sampai pada gubuk derita. Begitulahbdia menyebut kontrakan itu. Bangunan bekas kontrakan mahasiswa yang di sewa selama dua bulan oleh dirinya itu, akan menjadi saksi bisu gelagat dan kisah rindu dendam alumni pesantren Genteng laok. Setidaknya untuk sementara ini, ia memang betul-betul sendiri.

Jaka duduk di pelataran gubuk, sesekali ia melihat pada aliran kali yang tepat berada di samping depan gubuk. Air itu menggeliat begitu kencang. Tanaman padi di sawah sebelah gubuk seperti begitu bahagia menyambut riak-riak air yang mengalir ke akar-akar tumbuhan makanan pokok itu. Tuhan Maha Baik.

***

Sudah beberapa minggu pemuda itu merantau, menjelajah, menjejak segala titik lemah dalam dirinya. Ia harus melihat celah yang bisa menghantam muksa rindu yang semakin menyayat. Seperti halnya dendam, semestinya rindu yang membungkus hatinya itu harus segera terbayar tuntas. Tetapi bagaimanakah caranya, toh dia tak punya lagi kesempatan untuk memperjuangkan Fatimah, apalagi melamar. Bahkan haram. Fatimah telah bercincin di jari manis.

Ketika senja itu telah benar-benar lenyap, ia menghabiskan malam seperti biasa. Mengenang. Menangis.

Nasib tak beruntung, rindu itu telah memuksa jiwa Jaka. Juga telah melebur jiwanya pada sang kekasih. Bila air mata mewakili lisan yang kelu, kali ini bukan hanya tak mampu, ia telah kering sejak kemarin-kemarin. Barangkali hanya bersimpuh di altar jiwa sang kekasihlah yang patut dilakukan. Diam. Ya, hanya diam.

Dan pada saat itulah Jaka merasakan getar-getir, jika ia tak akan lama lagi melata dibumi. Kekhawatiran itu semakin membesar pada detak pangkal jantungnya yang semakin lemah. Entah sudah berapa hari Jaka hanya meminum air jika sudah kerongkongan terlalu kering. Selebihnya hanya rokok dan kopi. Nasi dan makanan lain, tak pernah sekali pun Jaka mengizinkan lidahnya mengecap. Tak ada selera atau memang di paksa rindu. Entah. Dan sekarang, deburan itu pada puncaknya. 

Sejurus kemudian, Jaka mengambil pena dan buku. Ia pun mulai menulis sebuah surat ke pada Fatimah.

Assalamualaikum wr wb

To: Fatimah Azzahra

“Semenjak aku tahu bahwa engkau akan dijodohkan, seketika itu juga saya tidak melihat secercah harapan. Ketakutan yang telah terpendam begitu lama, keluar kepermukaan bergegap-gegap oleh cemburu. Semoga saja dia tidak mau, kataku waktu itu. Neng, kau adalah dia. Dia adalah kau.

Kurasa kau harus tahu, bahwa setiap malam telah kusodorkan permintaanku kepada Tuhan. Telah kuceritakan semuanya kepada pencipta cinta itu. Tentang sosokmu yang lembut nan asih. Tentang tujuanku yang hendak menikahimu. Tentang kepentingan pribadiku terhadap pengabdian ilmu ke pesantren yang berdempetan (dekat) dengan rumahmu dan juga tentang dekatnya akses ke pondok pesantren.

Iya aku tahu, cinta ini jelas terlarang sekali. Aku santri dan kau neng. Aku telah berusaha semaksimal mungkin untuk memuntabkan apapun dalam hatiku, termasuk juga kenangan-kenangan yang selalu menyeruak.

Dulu sekali, dengan kepercayaan diri atau, lebih tepatnya lupa diri, kujamah jiwamu, semoga, kataku pada waktu itu, aku atau kau menjadi yang terakhir dalam drama kisah panjang sampai maut menjelang.

Tetapi siapakah yang berani menatang badai. Kiai Khal, setiap dawuhnya adalah sabda. Siapa pula yang berani beradu muka, merangkai hujjah, demi menentang segala perintahnya, termasuk kau, neng.

Kau tahu, aku selalu menunggu kata siapmu selama tiga belas tahun. Dan, ketika engkau menjawab siap, takdir bermuka dua ternyata. Kau di pinang dan bismillah pun terucap saat kau menerima gus yang agung itu. Tentu kau tak patut dicecar dengan tuduhan bahwa engkau munafik, pembohong, penipu dan semacamnya. Engkau hanya putri kiai yang solehah.

Mau tidak mau, aku harus melepasmu dan meninggalkan kebahagiaan yang ku cita-citakan. Karena, jika berbicara tentang berkorban demi si buah hati belahan jantung, bahkan yang paling pedih pun akan dilakukan: melepas diri, menahan pilu.

Setelah surat ini sampai, mungkin tidak berselang lama setelah itu, namaku bukan lagi Jaka Bermana. Semoga kau bernasib baik.

Yang mencintaimu, Jaka Bermana.

***

Beberapa waktu kemudian, surat itu memang sampai tertuju pada Fatimah Azzahra, dan saat surat itu tergenggam di tangannya, Jaka sudah ada di dunia lain. Bernasib sama dengan Qois, tak kuat tertimpa rindu lalu meregang nyawa.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s