NU Yang Mayoritas

Ironi sekali, jika hanya sekelompok orang membuat onar lalu menjadi kasus skala nasional. Nahdlatul Ulama yang membangun tonggak bangsa, lalu menjaganya sehingga tetap tegak. Atas dasar Itulah mengapa saya mengatakan kasus yang bersinggungan dengan organisasi yang berdiri 1926 ini dalam skala nasional. Karena NU ada diseluruh sudut-sudut bangsa, tentu saja ia organisasi mayoritas dengan jaringan terluas.

Sebagaimana tulisan kemarin, bahwa perlakuan tidak pantas telah menjamah marwah Rais ‘am Nahdlatul Ulama. Lalu umat organisasi terbesar itu kemudian terantuk pada sikap fanatik yang luar biasa. Bahwa begitulah, suri tauladan atau pemahaman tata krama dari dalam diri mereka mencuat seketika sesaat mendengar perlakuan tidak senonoh kepada pimpinannya. Patut dipuji saya kira.

Entah memang diagendakan atau tidak, bahwa realita yang ada memang seperti itu, kasus ganjil yang berdampak pada NU yang dulunya menjadi penengah dan pendingin suasana panas. Ketika perlakuan ganjil yang dilakukan orang di luar Islam kepada pimpinan umat mayoritas, semua pihak dalam tubuh NU turun tangan, diskusi-diskusi forum, tulisan-tulisan di berbagai redaksi atau media sosial, bahkan musyawarah para kiai, semua berlangsung serempak membahas muru’ah Mbah Ma’ruf. Ibarat kata sekarang NU juga ada di atas kuali.

Saya santri, tentu sangat sadar bahwa kiai adalah pewaris kenabian yang wajib dijunjung tinggi dan diagungkan. Sangat disayangkan sikap kurang ajar pada mbah Ma’ruf harus terjadi.

Tetapi pertanyaannya, kenapa sikap yang luar biasa ini baru terjadi? Mengapa baru sekarang? Bukankah penghinaan kepada kiai-kiai NU sejak tahun-tahun sebelumnya sudah marak?

Dulu, mendiang Gus Dur di hina oleh al Habib Muhammad Rizieq sebagai orang yang buta mata juga mata hati (bashirah).

Atas kejadian itu kebanyakan masyarakat NU diam saja, terkesan pantas dawuh Komandan FPI itu terlontar. Meskipun ada sebagian kecil yang beriak.

Bahkan kemarin, KH. Said Aqil Siraj dihujat, di hina, disesatkan dengan kata yang, demi Allah, sama sekali tidak pastas tersemat kepada kiai yang menjabat Ketua Umum PBNU itu.

Belum lagi Al habib Al Mukarram Muhammad Qurais Syihab yang sering di fitnah dengan dikait-kakitkan pada aliran Syiah sesat. Penulis tafsir Al mishbah itu, saya kira bukan hanya tidak pantas kata sesat dilekatkan pada dirinya, bahkan haram.

Lalu atas dasar apa tulisan ini membeberkan prahara itu? Apa saya tidak senang jika Mbah Ma’ruf di bela sedemikian rupa? Kalau ada yang beranggapan bahwa saya tidak setuju atas pembelaan yang dilakukan umat Nahdlatul Ulama pada mbah Ma’ruf, itu tidaklah tepat.

Justru sangat saya inginkan, jika Nahdlatul Ulama konsisten bersikap dan bersatu seperti sekarang terhadap propaganda-propaganda oknom yang ingin memecah belah umat, mencaci ulama, mencerai-beraikan bangsa, seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Artinya, kebersatuan dan kecemburuan pada ulama tidak hanya dilakukan sekali ini saja. Tetapi, berkelanjutan menyikapi tegas kepada siapapun atau kelompok apapun dibelakang hari.

Jika cita-cita bersama ini terwujud, kita yang mayorits tak terlalu miris atas kelakuan mereka yang mengelilingi kita seperti makanan.

Iya. Saya kira hadist di bawah ini sudah aktif. Rasulullah saw bersabda:

يوشك أن تتداعى عليكم الأمم كما تداعى الأكلة على قصعتها

 قيل أ من قلة نحن يومئذ؟

قال: لا بل أنتم كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل ولينزعن الله من صدو

عدوكم المهابة وليقذفن فى قلوبكم الوهن, قيل: وما الوهن؟ قال حب الدنيا

وكراهية الموت

“Akan datang suatu masa, bangsa yang mengeroyok kalian seperti orang rakus memperebutkan makanan di atas meja.

Para sahabat bertanya: Apakah karena saat itu jumlah kami sedikit?

Jawab Rasulullah saw: Tidak. Bahkan jumlah kalian mayoritas, tetapi kalian seperti buih di lautan. Selayaknya buih, mengikuti kemana arus mengalir. Dan, sungguh saat itu, Allah swt telah mencabut rasa takut musuh kepada kalian, juga mencampakkan penyakita wahn di hati kalian.

Sahabat bertanya: Apakah penyakit Wahn itu?

Rasulullah saw menjawab: Wahn adalah penyakit cinta dunia dan takut mati”.

Minoritas mempermainkan mayoritas. Sudah betul-betul terjadi bukan? []

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s