Sude’i Kek Cetak

Semenjak pulang dari Madura beberapa minggu yang lalu, wajahnya masih seperti kemarin, cerah, berseri-seri, menandakan bahwa sebentar lagi akan rame dengan gelak tawa menggelegar dari joke joke segarnya. Kendati menyimpan pilu yang begitu dalam. Sebab, kiblat terkokoh dalam keluarganya telah berpulang. Ayah.

Pemuda itu di panggil Sudei, salah satu senior pesantren Raudlatul Ulum I yang telah lama begitu setia. Dirinya tersekap dalam sistem pesantren selama 15 tahun dalam upaya menempa diri.

Nama keren akun Facebooknya Soedai Dauda. Katanya, demi menghilangkan makna nama itu sendiri yang sering membuatnya puyeng. Shuda’i dalam bahasa arab bermakna sakit kepala (kek cetak). Mendengar namanya saja, rasanya sudah tergelitik.

Tepatnya pada tahun 2001, ketika umurnya menginjak angka 10 pemuda itu  memasuki gerbang utama pondok pesantren. Adalah pilihan yang tepat, dengan tekad yang kuat, ia ingin melawan segala kemalasan dan kelelahan diri, demi membabat alas kebodohan yang bercokol.

Sebab, ia sadar betul bahwa kebodohan adalah aib sekaligus lara yang begitu menyakitkan penderitanya. Tak peduli waktu kanak-kanak yang seharusnya di gunakan bermain sebagaimana lumrahnya. 

Seperti petuah Imam agung, penggagas madzhab syafi’iyah:

“Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,

Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidup”

Di pondok, saya sendiri masih kalah senior dengan pemuda ini, tentu juga dalam segala hal, termasuk kedewasaan yang tidak jarang membuat orang berdecak kagum.

Keseringan mengubah suasana jemuh berubah riang dan kehebatan mengemas tawa, baginya mudah sekali kalau hanya untuk memasukkan kata nasehat pada seseorang tanpa harus menyinggung yang dimaksud. Alih-alih tersinggung, bahkan sasarannya terpingkal-pingkal. Dan, selanjutnya ia biarkan kalimat-kalimat itu membias dengan sendirinya. Dari situlah sisi kedewasaanya sangat kentara sekali.

Perihal sikapnya yang kocak, ada adagium yang terlontar dari salah satu temannya.

“Sude’i, di lihat mukanya saja sudah membuat ketawa” Begitu kata Abdur Rofik Rofiq salah satu temannya. 

Artinya, bahwa kocak itu memang sudah menyatu dengan segala gerak-geriknya. Istilah lain, sudah mendarah daging. Barangkali sewaktu malaikat meniupkan ruh di empat bulan umur kandungannya juga terpingkal-terpingkal.

Pemuda yang menyelesaikan S1nya di Universitas Raden Rahmat itu bukan tidak punya alasan dengan sikapnya yang suka menghibur. Bahwasanya dengan bersikap seperti itu justru menjadi harga jual yang tinggi.

Saya sendiri jika memperhatikan dari setiap usahanya untuk membuat orang-orang disekitarnya terbahak-bahak, sepertinya sifat humoris adalah cita-cita pemudai dari Mokos itu.

Jangan terburu-buru menuduh!

Sebab cita-cita seperti ini bukan hanya tidak terpuji, justru orang yang memiliki kemampuan mengemas lelucon seperti dia adalah karamah yang luar biasa.

“Hadza min adli rabbi” Jawabnya sambil membacakan ayat tersebut dengan gaya Muammar ZA yang dipaksakan, ketika saya tanya kepribadian kocaknya di waktu silam.

Bagaimana tidak?  Bukankah tidak semua orang bisa bersikap demikian? Menebar cinta dan ketenangan adalah tipikal orang yang terhormat. Karena membuat orang lain tertawa senang dan damai adalah cita-cita yang luhur.

Gus Dur misalnya, president ke empat itu malah meyatukan keberagaman bangsa justru dengan humor. Bapak pluralisme itu juga yang membuat bangsa-bangsa lain menaruh hormat pada bangsa Indonesia kala beliau menjabat sebagai orang nomer satu, juga dengan humor khasnya.

Dan saya kira pemuda itu sudah sukses meniru lampah Gus Dur. Tetapi dibalik kesuksesan pemuda itu tidak ada nama perempuan yang bisa saya sebut. sebagaimana kata pepatah “Dibalik kesuksesan seseorang, ada andil perempuan yang sangat besar” Pemuda itu mengalami penyakit jomblo yang teramat akut. Percayalah!

Suatu hari pemuda bernama lengkap Muhammad Sudei itu bercerita  tentang seorang tetangganya yang kaya, lalu menunaikan ibadah haji. Dulu sekali, lampu listrik belum menjamah tanah kelahirannya, hanya lampu temaram dari obor yang menerangi setiap malam-malam yang datang dengan jubah gelapnya. Jika pun ada yang memakai lampu listrik hanya tetangganya yang naik haji itu saja. Itu pun memakai mesin “genset”.

Sesampainya di Makkah, bersama rombongan, tetangga itu langsung menuju hotel tempat menginap yang kebetulan tidak jauh dari Masjidil haram. Secara sepontan tetangga itu terngaga. Begitu takjub dengan lampu yang sangat terang. Sinar bulatan-bulatan lampu menyeruak dari segala arah menerangi seluruh penjuru kawasan Kakbah.

Akan tetapi, bahkan dibalik penasaran pada mesin genset yang begitu kuat seperti itu, tetangga itu masih diam dalam gengsi. Tetangga itu tidak mungkin bertanya, image sebagai orang terkaya tidak sepantasnya heran hanya sekedar masalah lampu. Ini adalah prinsip. Tapi penasaran semakin kuat menyergap.

“Kak tuan, saya mau naik dulu ke atas tingkat mau lihat-lihat”. Kata tetangga itu meminta izin ketua rombongan seraya menyembunyikan gelagat heran.

Tetangga itu pun berjalan menaiki tangga-tanga hotel. Tetangga itu masih belum tahu apa itu pintu lift. Andai saja ia tahu, kemugkinan besarnya cuma satu. Pingsan oleh pintu ajaib. Masuk tua, keluar muda atau sebaliknya.

Tetangga itu semakin tak terbendung Ingin melihat langsung panorama dahsyat itu dari atas, sekaligus mudah-mudahan sekali dapat melihat sumber penyalur listrik. Sesampainya di atas tingkat, mata tak henti-hentinya menikmati lampu. Dan, “Oh pantesan. Gendsetnya sebesar itu” Katanya seketika melihat Kakbah yang begitu gagah.

Kontan saja semua hadirin, karena pada waktu itu banyak penikmatnya, terpingkal-pingkal atas lawakan pegawai Madrasah diniyah itu. Lingkaran itu semakin keras terbahak-bahak setelah mendengar lanjutan ceritanya,  tentang seorang TKI Saudi Arabia yang awam berbahasa arab, yang hanya menjawab “Amin” begitu khidmat serta menunduk meski dibentak-bentak oleh polisi ketika ditanya visa dan paspor. Usut punya usut, TKI itu mengira polisi sedang membaca do’a.

Dan masih banyak joke-joke lainnya dari pemuda kurus nan mungil itu.

Sayangnya, bukan lawakan-lawakan yang ingin di ulas kali ini dari pemuda itu. Tetapi keseriusan yang ia uraikan kepada saya di atas sepeda motor di hari Jum’at sore (03/02/17) saat menuju kedai kopi WD.

Sebuah moment yang penting untuk diabadikan. Jarang sekali terjadi.

“Lam, coba kamu ikut ronda” Katanya, memulai obrolan sejak motor bebek Meo yang kami tunggangi melewati perempatan Ganjaran.

“Ronda begal?”

“Iya Lam. Supaya Pondok Pesantren juga ikut andil mengamankan desa”

“Iya Ei. Tapi kira-kira saya harus berhubugan dengan siapa? Kan malu kalau langsung main ikut saja”

“Ya ke Orang Lam” Katanya lagi, tenang-tenang.

“Malu lah bos. Apalagi kan harus pakek kendaraan” 

“Iya juga. Seharusnya dari desa Ganjaran ada yang datang ke pondok. Atau alumni pondok sekitar”

“Tidak usah ei. Kan orang Ganjaran sakti-sakti. Mereka sudah cukup” Kata saya, juga tenang-tenang.

“Loh, ya ndak gitu bos. Itung-itung semakin menguatkan hubungan Pesantren dan desa”.

Jleb!

Pemuda itu peka sekali. Sangat jarang santri yang berkata demikian kepada saya. Seingat saya cuma  ada dua nama yang berkata demikian, Soedai dan mantannya, Rohim Warisi.

Obrolan itu terus berlangsung di atas motor bebek yang semakin memperpendek jarak WD.

Selama perjalanan, saya banyak sekali mengambil pelajaran. Masukan-masukan yang sedikit pedas, tetapi sangat berguna sekali bagi jiwa-jiwa seperti saya. Terutama tentang bagaimana saya harus bersikap di Pesantren yang akhir-akhir ini memang sangat miris dari segala sektor.

Ketika semua orang hidup dengan ego masing-masing, hanya membenarkan pendapatnya sendiri, terlalu melihat diri atas sesuatu yang dianggap bernilai, misalnya ilmu atau nasab, katanya, merupakan kedunguan yang masih membuai untuk dipertahankan.

Akhlak sangat langka, tonggak dasar kesufian itu sepertinya sudah jarang mendapat tempat.

Selain itu, pemuda yang pernah menjadi abdi ndalem itu juga mengingatkan saya, jangan pernah beranggapan memiliki kebaikan melebihi orang lain. Meskipun itu memang realita sebenarnya. Bukankah setan, dulunya makhluk yang berderajat tinggi?!. Katanya mantap. Seru sekali wejangan-wejangan dadakan itu.

Tiba-tiba saja saya bertanya-tanya perihal kedepannya pemuda dari Mokos itu, apakah masih lama bertahan di Pesantren sedangkan bapak yang menjadi kiblat keluarganya mengadu sudah selesai mengemban amanah?

Dan katanya, sebentar lagi ia akan meninggalkan pesantren tercinta, sebab ia sadar betul bahwa hanya dirinya tulang punggung keluarga dan ia pun harus siap menghadapi rintangan lika-liku hidup. Tak perduli ia harus menjerit atau tertawa. Mau tidak mau ia harus memanggul tanggung jawab di punggung, mengantar adik-adiknya ke gerbang kedewasaan.

Terang saja dada saya tersirap. Tapi wajar saja. Jauh sebelum tulisan ini ada, ada yang bertanya tentang kepastiannya boyong. Dan jawabannya pun sukses membuat pendengarnya ngekek guling-guling.

“Pasti lah. Bayangkan saja, 16 tahun bro, pengabdian yang sia-sia” katanya, saat dirinya tahu bahwa ning-ning di ndalem sudah bertunangan. Dalam konteks komedi  pastinya. Tentu saja.

Sudah suratan takdir, bahwa semua harus dan mesti berpisah dalam setiap pertemuan. Kendati perpisahan tak pernah sepi dari penolakan.

“Berapa lama lagi kamu disini Ei?”

“Paling tiga hari lagi”

Saya diam. Sementara motor terus melaju menuruni Lembah Pancir. Diamku, sebenarnya karena batin tengah bergejolak. Sebentar lagi, dalam jangka waktu yang lama saya tidak akan mendengar lagi leluconnya, atau saat-saat dia marah atas kekanak-kanakan saya. Atau (semoga dia panjang umur) tidak sama sekali.

Saya pun merasa sedih. Saya biarkan perasaan mendayu-dayu. Karena, saya pikir hal semacam ini memang sudah biasa. Pada saat seperti ini seseorang memang harus bersedih.

Tapi sedih lambat laun makin mengharu-biru. Makin kuat saja. Sama seperti sebelumnya, perasaan ini masih tetap saya maklumi. Sialnya, sedih semakin menjalar dan merasuk. Sangat terasa. Seperti dingin menusuk-nusuk tulang sumsum.

Barangkali karena pemuda yang membonceng saya itu bukan sekedar teman seperti yang lain. Sebab, kerapkali ia sering repot gara-gara saya. Tidak sekali dua kali pemuda kurus itu membantu saya dalam segala hal. Bahkan kadang untuk makan pun, dia punya andil besar mempertahankan nafas saya sampai sekarang. Terlepas dari itu semua, pemuda itu adalah icon lelucon Pondok Loteng yang tak terganti.

Rasanya ingin sekali memeluknya saat mendengar kepulangannya yang tinggal beberapa hari lagi. Tapi bagaimanapun, ia lelaki dan saya pun lelaki.

Terlebih tulang-tulangnya yang terlihat seperti meronta ingin keluar dari kulit. Sudah pasti sakit sekali jika siku lengannya yang runcing itu mengena dada saya karena sepeda terpental oleh jalan berlubang misalnya.

Seperti tertarik kekuatan gaib, mata saya pun berkaca-kaca.

Serambi WD sudah disapa ban Sepeda motor Meo. Kami turun untuk minum si hitam nan pekat.[]

8 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s