Cinta dan Benci

Dari tadi siang sampai menjelang Maghrib, saya membaca banyak sekali Cerpen di Android, tak lupa pula saya sempat membaca sedikit perkembangan negeri ini. Cuma membaca saja. Saya bukan pengamat dari yang saya baca itu. Hanya lebih suka kumal di dunia maya. Tapi bagaimanapun, semoga saya tidak terjebak didunia ini. 

Seingat saya ada dua point penting yang paling berpengaruh dari sekian yang saya baca itu. Maksud saya yang paling banyak dibahas dan dijadikan materi. Atau, materi paling diolah dengan kata-kata yang lebih indah, meskipun ujung-ujungnya masalah itu-itu saja.

1. Cinta. Unsur pertama bentuk kehidupan ini adalah cinta. Sebab semua yang wujud bermula dari rasa yang pertama kali dialami oleh Adam dan Hawa tersebut. Banyak sekali artikel cerpen yang menimang pembacanya dengan suguhan cinta. Anehnya, ketika sajian yang sudah terlalu usang dan dengan alur-alur itu saja, pembaca tetap melahap dengan begitu semangat, ceria dan jarang yang merasa bosan. Dan lagi, reaksi pun masih tetap bergelagat dari pembaca, hanya saja berbeda-beda, sesuai alur yang diracik oleh penulis cerpen atau puisi.

Jika bicara cerita cinta yang terus diasah bahasa dan kemasannya oleh penyaji cerpen, bahkan agama saja tak pernah lelah untuk terus berkisah tentang rasa ini beserta tokoh-tokoh yang diabadikan karena cinta. Misalnya Yusuf dan Zulaikha atau Rama dan Sinta dan masih banyak lagi. 

Saya pun menarik kesimpulan, barangkali eksistensi agama itu sendiri adalah cinta. Karena sepertinya memang demikian, tidak satupun pemeluk agama dimuka bumi yang bilang tidak pada ungkapan atau tidak pernah mengatan sama sekali “Agama kami, cinta damai”. Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu atau agama apapun itu. Dan, semua kitab suci agama pasti memuat redaksi cinta. Misalnya agama Islam, Al Qur’an “Jika kalian cinta Allah, maka ikutilah aku. Allah pun pasti mencintai kalian” setidaknya begitulah arti surat al Baqarah yang ditujukan kepada utusannya itu. Dan semua agama yang lain juga punya ayat yang senada dengan firman itu. Cinta pada Tuhan dan nabinya masing-masing. 

Hanya saja, pemaknaan dan pengejawantahan cinta pemeluknya saja yang berbeda-beda. Di Indonesia misalnya, yang baru-baru ini menuntut penista agama yang ditengarahi oleh lawan-lawan politiknya yang suka memasung agama. Penista itu harus segera diproses hukum. Jutaan manusia turun kejalan memekik takbir, supaya tertuduh penjahat agama itu segera dijebloskan kekamar berjeruji besi. Karena, siapa yang mau dan menerima kitab sucinya disinggung sebagai pembohong? Kira-kira seperti itu yang ada dalam benak mereka. Reaksi cinta yang berdebur, ternyata setara Tsunami. Jika dipandang dari sudut agama, cinta seperti ini sangat baik, meski terkesan terlalu berlebihan menyikapi.

Masih dalam kasus ini, tersangka pun juga punya cinta yang begitu agung pada agamanya, tidak ada satupun agama yang benar menurutnya yang patut mendapat cinta sedemikian besar. Hanya saja cinta seperti ini jika tidak dibarengi dengan saling menghormati, berakibat mencela agama lain. Ujung-ujungnya menjadi tersangka lalu diproses hukum sambil menangis.

Yang jelas dari kedua kubu itu sama-sama punya prinsip, punya pemahaman dan pengertian yang tinggi atas agama tercinta masing-masing. Saya hanya bisa bergumam saat mengingat kejadian itu “Tuhan memang hebat meramu cinta hingga berdampak sedemikian rupa”. Cinta dalam konteks apapun memang selalu menarik untuk diupdate. Seperti cerpen-cerpen yang baru saja saya baca dan kasus heboh itu.

2. Benci. Sialnya, di dunia ini setiap kata ada antonimnya. Ada bagus ada buruk. Ada lelaki, ada perempuan. Ada atas, lawannya bawah. Tinggi,><pendek. Lawan kata ganteng -seperti pembaca tulisan ini. hihi-, jelek, dan seterusnya. Cinta, kebalikannya adalah benci.

Konon, dizaman antah berantah, pemain pertama kali sifat benci adalah Iblis. Kalau ditarik ulur kebelakang sifat benci ini ternyata ditengarai oleh iri. Sifat iri berbentuk keengganan seseorang pada orang lain yang mendapat nikmat. Ia tidak menerima, karena dirinya mesara lebih pantas menerima nikmat itu. Artinya iri berawal mula dari sombong. Ketemu sudah, bahwa benci merupakan anak keturunan sombong. Celakanya, sifat benci, seringkali bersamaan dengan bodoh. Sama seperti bayi kembar, kebencian dan kebodohan selalu menyatu. Jadi wajar kalau pembenci dikasih tahu bahwa yang diberangi itu baik, ia mengangkang, menolak dengan gaya sok tahu. Sombong.

Yang mula-mula dilakoni oleh Iblis, kemudian Qobil dan terus terpelihara sampai sekarang, benci membanjir. Sekali lagi, karena ada cinta. Dimana ada cinta asih yang dimiliki oleh orang-orang yang berakal dan peka, benci datang membadai pada orang-orang bodoh. Ah, betapa berpengaruhnya Iblis.

Dan, pengolah hebat sifat benci adalah mereka yang punya kepenting-kepentingan. Tumbalnya adalah orang-orang yang jauh dari rasa cinta. Misalnya politik, ia sering kali membuat suasana panas untuk dikonsumsi orang-orang bodoh demi kepentingan pelaku politik itu sendiri. Ketika kepentingan itu sudah terjamah, kebencian tetap bercokol di dada orang-orang bodoh itu, menyisakan lara menahun.

“Aku benci kamu”

“Kenapa?”

“Karena kamu hebat” Begitu obrolan akhir cerpen yang saya baca.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s